Author: hamlennon

Air Mata Pertiwi

Tuesday, May 27th, 2008 @ 9:21 AM

black goldSeperti hari-hari biasanya, tibalah saatnya memberi makan si Jude (kuda besiku). Apalagi klo bukan Premium yang disubsidi pemerintah. Tapi kali ini pakan si Jude naik sekita 27,8 % jadi Rp 6.000/liter yang dulunya berharga Rp4.500 Hebat juga si Jude, sudah menemaniku selama 7 tahun mulai dari SMA sampai sekarang masih menjadi teman yang setia untuk menjelajahi kota budaya ini, Jogjakarta. Tentu saja dia menjadi saksi bisu naiknya harga emas hitam ini secara bertahap yaitu pada 16 Juni 2001 (Rp. 1.450/liter), 17 Januari 2002 (Rp 1.550/liter), 1 Januari 2003 (Rp 1.810/liter), 1 Maret 2005 (Rp 2.400) dan 30 September 2005 (Rp 4.500). Kali ini tentu saja kenaikan harga ini terasa lebih menjengkelkan karena saya bukan anak kecil lagi yang gampang di tindas karena pendidikanku sudah menyadarkanku kalau hidup negara Zamrud Khatulistiwa ini berarti selalu senafas dengan hidup ketertindasan di bawah mental birokrasi yang korup. Akupun mulai bersyukur menjadi mahasiswa walaupun tidak semua kawanku sesama mahasiswa sadar bahwa mereka ditindas. Karena bagi mereka pendidikan adalah pekerjaan, mendapat pendidikan adalah langkah awal untuk mendapatkan pekerjaan.

Antrean kali ini tidak terlalu panjang, tidak seperti sebelumnya dimana masyarakat berbondong-bondong ke SPBU demi mendapatkan BBM yg lebih murah karena keesokan harinya kenaikan harga sudah ditetapkan. Mengantri adalah menunggu. Dan Menunggu merupakan tindakan yang paling tidak produktif. Lalu apa yg harus saya lakukan? Ya sudahlah, lebih baik saya gunakan untuk berpikir tentang beberapa pertanyaan yang terus menghatui tidurku ini. Ada suatu pertanyaan? Kenapa sih pemerintah begitu ngototnya untuk menaikan harga BBM bahkan Pak Jusuf Kalla mengatakan bahwa dirinya baru bisa bernapas lega kalau subsidi BBM sudah benar-benar dihapuskan. Apa yang menjadi dasarnya? Ya jelas, APBN. Dengan naiknya harga minyak dunia maka APBN kita kemungkinan akan mengalami defisit apabila minyak masih disubsidi dengan pemerintah. Terdengar masuk akal? padahal ini jelas-jelas sebuah kekeliruan. Bayangkan, Indonesia adalah negara penghasil minyak dengan produksi 950.000 barrel per hari dan konsumsi 1.084.000 barrel per hari. Sebenarnya hanya sedikit sekali yang kita impor. Jadi seharusnya pemerintah tidak mensubsidi keseluruhan minyak tapi hanya sekitar 134.000 barel per hari saja. Tapi ingat asumsi itu hanya berlaku apabila indonesia benar-benar memiliki 100% semua kilang minyak yang ada di negara ini. Kenyataannya kita tidak memiliki apapun. Minyaknya memang milik kita tapi setelah dia bisa dikeluarkan dari perut bumi maka dia menjadi milik asing. Akupun langsung menggelengkan kepala kita bagai ayam yang mati di lumbung padi.

blood for oilTapi sebentar, masa hanya itu alasanya, APBN. Adakah hal lain? antreanpun merangkak maju, sebentar lagi tiba giliranku, sekitar 4 motor lagi. Didepanku ada sebuah motor berstiker “Shell”, sebuah perusahaan minyak asal Inggris. Sebuah perusahaan Transnasional, sebutan untuk perusahaan yang berkuasa secara internasional dan menjadi ujung tombak imperialisme. Seorang buruh SPBU sedangkan melaksanakan tugasnya mengisi premium untuk motor yang sedang mendapat giliran. Tiba-tiba semua pemandangan ini menjadi seperti sebuah puzzle yang harus disusun dengan rapi. Aku pun tertantang, otakku berpikir, “pasti penampakan ini menjadi sebuah pertanyaan yang kucari-cari sejak dulu!”. Dan akhirnya tersusun juga, SPBU ASING. Maksudnya apa? tentu saja adalah sebuah SPBU yang dikelola oleh pihak asing, Transnasional Corporation.

Tiba-tiba kepala ini langsung mencoba untuk mengambil beberapa memori tentang hal ini. Googling, dan akhirnya menemukan sebuah file (perempamaan untuk kerja otak). Dan file itu adalah Majalah Tempo, entah itu berapa bulan yang lalu, mungki malah beberapa tahun yang lalu. Tentang sudah beroperasinya beberapa SPBU Trannasional di Jakarta dan kalau tidak salah baru 3 SPBU yaitu Shell, British Petroleum (BP) dan Petronas. Jujur waktu baca artikel itu saya tertawa karena ternyata SPBU-SPBU tersebut menjual produknya dengan harga diatas harga PERTAMINA atau menjual dengan harga pasar internasional. Tentu saja mereka bakalan ga laku kecuali untuk beberapa produk sekelas Pertamax karena pemerintah sudah tidak menyubsidi BBM jenis ini. Jadi mereka hanya bisa berharap untuk meraih keuntungan dari BBM kelas Pertamax. Pilihan Gila. Antreanpn merangkak maju.

SPBU PetronasTetapi sebentar, kegilaan mereka tidak akan berlangsung lama kalau… “oh my god” kalau Premium kita berharga sama dengan Premium yang mereka jual. Jelas hal ini sangat memungkinkan jikalau pemerintah benar-benar mengamini cita-citanya untuk menghapus subsidi BBM sepenuhnya. Dan itu akan berlangsung sebentar lagi dengan cara pengurangan subsidi secara bertahap. Napas ini pun tertahan, kepala inipun tertunduk. Itu berarti…. Indonesia akan menjadi pasar untuk perusahaan Transnasional ini. Pasar dengan 200 juta jiwa lebih yang sebagian besar menggunakan motor sebagai alat transportasinya. Itu berarti BBM adalah kebutuhan dasar mereka jika ingin tetap hidup dan kesemua itu berada di tangan asing, bukan ditangan pemerintah. Hidup kita ada di tangan orang asing ini. Keparat…!

Tapi tiba-tiba. “Wei! iso maju ra dab, nek arep ngelamun ra sah neng kene, suii!” terdengar seseorang berbicara didepanku. Ternyata dia sang buruh SPBU tadi, mengingatkanku untuk maju karena orang didepanku sudah selesai loading. Akupun tidak menjawab panggilan itu dan langsung menuntun Jude untuk memasuki arena pengisian. “Piro mas” kata buruh tersebut, “sepuluhewu” jawabku datar. Ya hatiku masih berdetak kencang mengingat hal tersebut, suatu saat aku akan berdiri disini mengisi bahan bakar tapi bukan lagi dengan label Pertamina. Minyakpun mengucur deras dari monitor itu, tetes demi tetes “air mata bumi pertiwi” memenuhi ruang-ruang dalam tangki motor ini. Suatu saat air mata ini tidak akan bisa dinikmati dengan murah mungkin harus ditebus dengan “air mata rakyat ini”. Selesai mengisi kulihat meterannya, benar 10.000 tapi ko ga sampai 2 liter ya? oh iya kan harganya sudah naik. Segera kubawa keluar si Jude dari arena pengisian sambil tidak lupa mengucapakan terimakasih kepada buruh tersebut.

SPBU ShellAq coba menenangkan diri dulu sebelum meninggalkan SPBU ini. Dan mencoba untuk menafikan kesimpulanku itu dengan sebuah undang-undang. Ya, aku ingat ada sebuah UU Migas yang mengatur tentang industri Hulu dan Hilir dimana yang sudah berperan dalam indutri Hulu tidak boleh berperan dalam indutri Hilir, begitupula sebaliknya. Hati ini terasa lebih nyaman. Akhirnya akupun memutuskan untuk mencari Jendela Dunia, internet dan mengumpulkan semua bahan-bahan yang bisa menjadi lentera di tengah kegelapan ini. Dan ternyata hal yang kutakutkan itu terjadi. Beberapa artikel koran menyebutkan kalau Pemerintah benar-benar sedang merangcang untuk menghapuskan subsidi agar pihak asing dapat berinvestasi di negara ini, kesemua hal ini berasal dari mulut Mentri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Sang pemberi keterangan bukanlah orang sembarangan, dia adalah orang yang bertanggung jawab penuh terhadap arus ditribusi energi di negara ini. Aduh…! Kepalaku terasa senut-senut. Ini negara apa to? Kok bisa-bisanya kita menjadi seperti ini. Semua Birokrat kita bodoh! seperti tidak pernah sekolah saja. Saya berjanji tidak akan pernah memilih SBY lagi kapan perlu GOLPUT!!!

Kawan-kawan kini sadarkan kenapa banyak Mahasiswa yang turun ke jalan demi menolak kenaikan harga. Kalau sampai hal ini tercapai pasti akan terjadi pergerakan besar. Dan lebih baik menjadi pemberontak dari pada harus tunduk pada penguasa yang dhalim dan bodoh itu. Ingat kawan saat anda melawan berarti pendidikan yang anda tempuh sudah berhasil karena seyogyanya hakekat pendidikan adalah “kebebasan”. Bebas dalam berpikir baru kemudian bebas dalam bertindak.

“Apa yang membedakan kaum terpelajar dengan lainnya? Kaum terpelajar harus adil sedari dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” Pramudya Ananta Toer dalam karyanya Bumi Manusia.

Picture from bloodforoil.org

Uncategorized


 


One Response to “Air Mata Pertiwi”

  1. Dolores Says:

    tragis nian nasib negeri ini.. seogma generasi penerus bangsa saat ini dan yang akan datang mampu merubah keadaan yang kurang menyenangkan tersebut.. JAYA SELALU INDONESIA-ku!!!

Leave a Reply