Author: hamlennon

Bekisar Merah

Tuesday, July 28th, 2009 @ 10:52 AM

Bekisar MerahDari sekian banyak karya Bung Ahmad Tohari, mungkin ini salah satu buku yang paling menarik menurutku. Bersetting sekitar tahun 70-an buku ini masih mengangkat tema-tema penindasan terhadap warga pedesaan dan semangat perubahan dari para pemuda. Dengan penggambaran warga desa marginal yang orisinil membawa kita untuk menikmati keindahan desa Karangsoga yang masih asri sekaligus merasakan getirnya kehidupan para penyadap nira kelapa.

Lasi sebagai tokoh utama dihadapkan dengan sebuah keberuntungan sekaligus kesengsaran hidup. Ternyata benar kawan, kecantikan disatu sisi selalu dapat menempatkan kita pada sisi yang beruntung tapi terkadang bisa menjadi sebuah kutukan sekaligus, bagai pisau bermata dua. Aku rasa situasi itu masih relevan di jaman sekarang. Coba lihat saja kawan-kawan kita di kampus yang diberi keindahan fisik, bagi yang masih bisa menahan diri dan bersyukur dengan karunia tuhan itu tentu dapat menjaga dirinya dari tindakan buruk. Tapi bagi mereka yang lupa, oh kawan sayang sekali kecantikanmu ternyata bisa dibeli, bahkan dengan harga yang sangat murah. Kalau sudah begitu, hancur sudah derajatmu. Pandai-pandailah menggunakan pisau bermata dua, salah-salah kamu sendiri yang tertusuk.

Ahmad TohariSeperti kisah-kisah Tohari yang pernah kubaca, biasanya di tengah kesengsaran ini selalu hadir jiwa-jiwa pemuda yang haus akan perubahan. Dan pemuda itu bernama Kanjat.Dia menghadapi dilema sebagai mahasiswa yang harus memilih judul skripsi yang “biasa-biasa saja” atau sebuah judul skripsi tentang analisis masyarakat penyadap nira di kampung halamannya sendiri. Skripsi yang dipandang terlalu “memihak” warga desa menurut sebagian akademisi dikampusnya, bagi mereka itu judul yang terlalu idealis dan sok humanis. Tapi lain hal bagi dosen pembimbing Kanjat, dia sangat mendukung ide anak didiknya itu, hingga akhirnya Kanjat mantap untuk tetap meneruskan skripsinya.

Pertanyaannya, apakah kita harus menempatkan ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang netral? apakah benar klo ilmu pengetahuan tidak memihak? Aku termasuk orang yang tidak percaya dengan statment tersebut. Ilmu pengetahuan pasti memihak. Masalahnya adalah dimana kita menempatkan keberpihakan ilmu pengetahuan tersebut. Berpihak kepada pemodalkah? perpihak kepada penguasa? atau berpihak pada rakyat. Terserahlah kawan-kawan memilih yang mana, aku lebih baik memilih berpihak kepada rakyat. Karena ilmu pengetahuan pun persis seperti pisau bermata dua kawan. Oppurtunisme dan pragmatisme juga dapat merendahkan martabatmu sebagai manusia. Ternyata kamu juga bisa dibeli, kali ini bernama “pelacur intelektual”.

Menyadap NiraBanyak hal coba diusahakan oleh Kanjat dalam mendorong kemakmuran para penyadap nira dikampungnya. Mulai dari masalah proses pengolahannya hingga mencapai efesiensi yang memuaskan. Tentunya itu yang menjadi medan rekayasa Kanjat yang memang seorang insinyur.Bagaimana dengan koperasi? Saat pada awal aku mendengar tentang petani yang tertindas pasti disebabkan oleh makhluk yang bernama tengkulak. Pikiranku selalu saja berpaling ke koperasi sebagai solusinya. Tapi apa yang terjadi? Dulu memang pernah diusahakan untuk terbentuknya koperasi, pada awalnya masyarakat mendapat manfaat yang cukup banyak dari koperasi tersebut, akan tetapi para pengurus koperasi (yang dipegang oleh kaum priyayi) lama-kelamaan memanfaatkan koperasi demi keuntungan pribadi. Seiring berjalannya waktupun anggota koperasi mulai mempertanyakan faedah koperasi hingga akhirnya koperasi kolaps karena ketidakpercayaan anggota terhadap para pengurusnya. Hal tersebut menyebabkan trauma mendalam masyarakat desa karangsogo terhadap koperasi.

Akupun tersenyum kecut melihat realitas ini. Dulu juga pernah beberapa kawan teknik pertambangan berinisiatif untuk memberikan penyuluhan kepada para penambang tradisional tentang cara menambang yang baik dan aman. Ternyata tanggapan masyarakat minim, lebih lagi mereka meminta bayaran untuk kehadirannya. Kenapa masyarakat desa sudah sedemikian pragmatis? Menurut beberapa kawan yang sudah malang melintang di daerah tani berkata kalau kebanyakan dari mereka itu pasti dulunya pernah terlibat proyek-proyek bersama LSM yang selalu menggunakan “amplop” di setiap kegiatannya. Terlebih kalau LSM tersebut terkoneksi dengan LSM asing, pasti lebih gila lagi amplopnya.

Makanya kawan, menurut saya kalau kawan-kawan berhubungan dengan masyarakat yang masih awam tolong jaga sikap. Mereka masih sangat gampang mencontoh dan traumatis. Boro-boro membawa mereka ke perubahan, malahan kita meninggalkan luka mendalam kepada mereka. Bisa jadi diperlukan waktu yang lebih lama lagi untuk mengobatinya.

Tentunya masih banyak nilai-nilai yang masih bisa kita ambil dari buku kecil ini. Tapi tentu tidak semuanya dapat saya tulis disini. Intinya saya termotivasi oleh salah satu karya Bung Tohari ini. Bukan hanya menyentuh rasa empati kita tapi menerutku ini lebih emosional lagi. Selamat berjumpa dalam karya Tohari selanjutnya. Tabik…

Book and Film


 


Leave a Reply