Author: hamlennon

Belajar Dari Russia

Friday, July 18th, 2008 @ 6:24 PM

KremlinSudah lama sebenarnya memburu buku yang satu ini. “Bangkitnya Rusia” merupakan buku terbitan Kompas yang membahas perkembangan mutakhir negri tirai besi ini. Awalnya tertarik dengan buku ini saat pemerintah menetapkan kenaikan harga BBM dengan alasan naiknya harga minyak mentah dunia. Kita memilikinya tapi tidak pernah merasakan nikmatnya, mungkin dulu pernah saat Presiden Soeharto berkuasa, saat itu terjadi “Booming” minyak dimana harga minyak dunia meningkat tajam dan posisi Indonesia masih sebagai negara pengekspor minyak dunia dan tergabung dalam OPEC.

Rusia sama seperti Indonesia pada saat krisis global terjadi di tahun 1998, terhantam ombak krisis ekonomi. Akhir Dekade 80-an terjadi perubahan politik besar di Uni Soviet dan akhirnya ideologi Komunis sudah tak dapat dipertahankan lagi alias rontok. Michael Gorbachev mengumandangkan “Prestorika” yang akhirnya langsung didukung oleh rakyat rusia yang sudah merindukan iklim demokrasi hadir di negrinya setelah sekian lama rezim komunis tidak pernah bisa mewujudkan cita-citanya untuk mensejahterakan rakyatnya. Beberapa negara bagianpun akhirnya terlepas dan memerdekakan diri. Gonjang-ganjing politik tersebut tentunya berdampak kepada ekonomi rusia. Rusiapun langsng dilanda krisi ekonomi, bahkan hutang beberapa negara pecahan soviet harus ditanggung oleh warga Rusia sendiri. Hal ini menyebabkan semakin terpuruknya ekonomi Rusia.

YukosAkhirnya negara yang dulunya pernah menjadi salah satu polar dunia inipun meminta bantuan dengan negara-negara barat melalui Washington Konsensus. Sudah pasti IMF yang akan mengawasi dana pinjaman dari beberapa negara donatur tersebut tidak akan memberikan bantuan secara percuma, harus ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh Kremlin. Salah satu persyaratannya adalah Rusia harus mempercepat proses privatisasi aset-aset nasionalnya agar sistem pasar bebas dapat benar-benar diterapkan. Bayangkan Rusia yang dulunya negara adidaya yang paling gigih menentang Kapitalisme, pada saat itu akhirnya mau menuruti syarat tersebut semuanya demi uang pinjaman tersebut.IMF dengan sok tahu ingin sesegera mungkin mewjudkan ekonomi rusia yang kapitalistik tapi kesalahannya adalah bahwa sebenarnya Rusia jauh daripada siap untuk bisa menerima hal tersebut. Rakyat Rusia yang sudah puluhan tahun terbiasa dengan sistem ekonomi komunis harus sesegera mungkin merubahnya menjadi mekanisme pasar.

Krisis yang terjadi telah menyebabkan kesenjangan yang cukup besar antara si kaya dan si miskin, hal ini menyebabkan terjadinya oligarki karena hanya beberapa gelintir orang saja yang dapat menguasai pasar. Pemerintah akhirnya menjual semua asetnya, termasuk perusahaan pertambangan dan sumur-sumur minyak yang dimilikinya. Persis seperti kasus BLBI yang terjadi di Indonesia, ternyata dana pinjaman dari IMF hanya dinikmati oleh sedikit orang atau yang lebih dikenal dengan skandal “Fimaco“. Hal ini memperparah ekonomi Rusia. Bahkan Oligarki itu sudah berlagak seperti Mafia yang kebal hukum. Pemerintahanpun menjadi korup dan gampang disuap. Setelah itu semua pada tahun 1998 krisis ekonomi global terjadi dan negara yang sedang berusaha untuk bangkit ini akhirnya dihajar lagi dengan krisis.

Vladimir PutinDitengah kehancuran ini seorang mantan KGB akhirnya memenangkan PEMILU dan menjabat sebagai Perdana Mentri Rusia. Kemenangannya tidak pernah diduga sebelumnya, karena Vladimir Vladimirovich Putin adalah wajah yang benar-benar baru di pentas politik Rusia. Para Oligarki tidak terlalu risau dengan kemenangan Putin karena mereka sudah cukup akrab dengan orang yang satu ini dan sepertinya segala permasalahan dapat di kompromikan. Tapi sebaliknya, ternyata dengan bantuan kawan-kawannya yang mantan KGB atau yang sering disebut “Siloviki“, Putin mengejar satu persatu para oligarki untuk menagih hutang-hutang mereka kepada Rusia. Banyak sekali yang di penjarakan oleh Putin termasuk Raja minyak Rusia, Mikhail Khodorkovsky atas keterlibatannya pada kasus Fimaco dan penggelapan pajak. Tindakan Putin ini mendapat kecaman dari barat yang memvonis Putin sebagai diktator. Putin tidak gentar, bahkan beberapa aset berhasil di nasionalisasikan kembali atas nama kepentingan rakyat dan tentu saja rakyat mendukungnya. Suatu langkah yang sungguh berani. Aset-aset seperti perusahaan pertambangan dan sumur minyak yang vital dikuasai kembali. Selang beberapa tahun setelah tindakan tegasnya akhirnya terlihat hasil yang menggembirakan, dalam tempo sekitar 5 tahun Rusia sudah dapat melunasi hutang-hutang sampai hampir tinggal sepertiganya saja. Apalagi di tengah harga minyak ysng memuncak belakangan ini.

Mikhail KhodorkovskyTetapi prestasi Putin bukannya tanpa cacat. Putin memang telah menghancurkan Oligarki Ekonomi di negara itu, tetapi telah menggantinya dengan Oligarki Politik yang dikuasai oleh Siloviki para eks-KGB. Tentunya hal ini menjadikan jalan demokrasi menjadi terhambat karena Putin lebih mementingkan stabilitas politik. Sekarang, Rusia siap tampil untuk menghegemoni dunia kembali. Dengan meningkatkan anggaran militernya dan teknologi perang yang terbilang salah satu yang terbaik di dunia, Rusia telah mengembalikan harga diri mereka dihadapan bangsa-bangsa barat. Buktinya belakangan ini Rusia telah berhasil menggertak Georgia, negara pecahan Uni Soviet yang sekarang bergabung dengan NATO.

Ukraine Girl really knock me Out
They left the west behind
Moscow girl make me sing n shout
The Georgias always on my mind

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Back in the USSR, by The Beatles

Putin CartoonMenurutku pribadi, Rusia mempunyai karakter konservatif dan selalu ingin menghegemoni. Ternyata hal tersebut tidak berubah sejak jaman rezim komunisme menguasai daerah daratan terluas di dunia ini. Komunisme Rusia berbeda dengan Komunisme Cina, Rusia selalu berusaha untuk membangun blok pengaruh yang cukup besar dengan “Internationale” dimana Tan Malaka pernah menghadiri Kongres Internationale sebelum zaman kemerdekaan.Lalu langkah kedepan apa yang akan dilakukan Rusia, dengan ekonomi yang mulai menguat, politik yang dipaksa stabil dan kekuatan militer yang masih luar biasa. Putin berhasil membuat AS berpikir dua kali untuk menyerang Iran, dimana daerah Laut didekat Iran merupakan wilayah Rusia, tentunya Pasukan Merah tidak akan membiarkan apapun melanggar batas negaranya.

Apa yang bisa kita pelajari dari Rusia? Mereka berhasil melakukan beberapa tindakan yang membela kepentingan rakyat banyak dan akhirnya bisa bangkit kembali. Keberanian mereka untuk dapat menasionalisasikan aset adalah sebuah keputusan yang tepat di tengah ancaman negara barat yang tidak rela bila Rusia dapat kembali menguat. Bagaimana dengan Indonesia? Beranikah kita menasionalisasikan aset kita? minimal kita bisa melakukan negoisasi ulang terhadap kekayaan alam kita. Saya yakin kita bukan kumpulan masyarakat feodalis yang masih mengharapkan hadirnya seorang Mesiah, juru selamat, ratu adil atau apapun namanya. Ini bukan maslah siapa yang akan memimpin Bung! Tapi bisakah kita menggerakan rakyat kita untuk melawan segala bentuk penindasan? Saya masih percaya dengan rakyat bung, merekalah yang harus kita bangun dan kita didik dengan pergerakan. Indonesia 100% merdeka!!!

Uncategorized


 


5 Responses to “Belajar Dari Russia”

  1. Irwan Bajang yang lumayang Narsis Says:

    sepi blogmu bro..padahal dah pake dotkom..hahaha
    mampir2 di blogku ya..
    salooom~!!!

  2. irwan Bajang Says:

    mampir dulu sebentar

  3. henshoorne Says:

    Hi, courteous posts there :-) thank’s exchange for the compelling word

  4. irwan bajang Says:

    blogmu udah normal kembali Bung..
    alhamdulillah..makan2 ya..hahahaha

  5. Rogerson Says:

    Rasulullah pernah bebarsda:”Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji dzarah dari sifat kesombongan.”:)]

Leave a Reply