Author: hamlennon

Bumi Manusia

Tuesday, August 26th, 2008 @ 10:09 PM

Bumi ManusiaPada saat berdiskusi dengan kawan-kawan perihal sejarah, ada beberapa hal yang terkadang sulit untuk kita bayangkan. Tentunya hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dengan situasi dimana pada saat itu beberbeda jauh dengan situasi sekarang. Hingga akhirnya seorang kawan mennyarankan saya untuk membaca buku Pramudya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Walaupun sebenarnya sering mendengar nama beliau, belum pernah ada sedikitpun niat untuk membaca karya-karyanya.

Mulailah dibuka lembar demi lembar dari buku yang katanya pernah dilarang beredar pada masa orde baru dan ternyata buku ini sangat mengesankan. Pramudya menggambarkan setting 1900-an di Hindia Belanda dengan cukup detil. Menceritakan seorang pemuda dari golongan Priyayi yang bernama “Mingke” yang merupakan tokoh utama dalam novel ini. Mingke mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di HIS sebuah institusi pendidikan yang dibangun pemerintah Hindia Belanda. Mingke cukup beruntung karena tidak semua pribumi dapat mengenyam bangku pendidikan formal pada saat itu, lebih lagi “keberuntungan” dia merupakan efek dari jabatan ayahnya yang seorang Bupati. Gambaran tentang situasi Politik Etis Belanda dimana salah satunya adalah “edukasi” yang berimplikasi dengan dibangunnya beberapa institusi pendidikan formal bergaya belanda dan bagaimana civitas akademika bercengkrama juga disajikan secara apik.

Bagaimana dengan situasi masyarakat pulau Jawa pada saat itu? ternyata sudah sangat kosmopolitan dimana di buku ini dijelaskan bahwa para pendatang dari Belanda, tionghoa, dan pribumi dari berbagai etnis hidup bersama. Tapi pada saat itu sangat terasa nuansa diskriminasi yang memang sengaja di setting oleh pemerintah untuk membatasi ruang gerak pribumi baik itu sosial, ekonomi dan politik. Jelas saja pada jaman itu nuansa perlawanan dan percikan-percikan konflik sudah mulai mendarah daging. Hanya saja pola perlawanannya masih sangat perbanditan yang nyata-nyata tidak mungkin bisa mengalahkan pemirintah yang memiliki bala tentara yang terorganisir dengan baik.

Tentunya sebuah cerita yang baik dapat mengendalikan emosi pembaca sehingga novel ini membuat para pembaca tidak bosan-bosannya untuk membaca alur kisahnya. komposisi yang baik seharusnya bisa meramu beberapa hal seperti konflik, sedih, gembira, misteri dan cinta menjadi sesuatu yang sangat mengesankan dan buku ini membuktikannya. Kisah cinta antara Annelis putri Nyi Ontosoroh dan Mingke juga tidak lupa mendominasi buku ini. Cara Pramudya menggambarkan kecantikan Annelis membuatku sungguh terpana. sepertinya luar biasa indah, saya yakin seorang atheis setelah membaca buku ini kembali menimbang keberadaan Tuhan saat dia bertemu gadis yang sangat cantik.Karena apa, sangat tidak mungkin wajah gadis secantik itu tercipta dengan sendirinya. Hahahahha!

Permasalahannya adalah, apabila benar ada desas-desus yang mengatakan bahwa sebentar lagi akan diadakan pembuatan film Bumi Manusia, siapakah kira-kira yang pantas untuk memerankan Annelis? dari hasil pengamatan saya apabila melihat ciri-ciri sbb :

  • Wanita berumur sekitar 15 tahun
  • wajah merupakan blasteran jawa-eropa atau yang sering kita sebut “indo’
  • bisa berbahasa inggris
  • berpenampilan menarik
  • suka bekerja keras
  • memiliki etos kerja yang tinggi
  • bisa bekerja dalam tim

Eh bentar ko persyaratan 3 sampai 7 kayak iklan lowongan kerja ya? hehehe. Oke maksud saya point 1 dan 2 aja. Maka artis yang paling cocok adalah Pevita Pearce. Walaupun sebenarnya dia bukan campuran jawa-eropa, melainkan banjar-eropa (banjarmasin lo, bukan banjarnegara!). Klo dihubung-hubungkan dengan saya yang campuran jawa-banjar maka sebenarnya akan ketemu benang merah diantara kami bertiga. Annelis-Saya-Pevita = (jawa-eropa)-(jawa-banjar)-(eropa-banjar), cocokan! so what gito loh!

Kembali ke cerita, harapan saya ya seperti itu, tetap Pevita yang harus jadi Annelis. Walaupun kalau dilihat secara sepintas rasa-rasanya Pevita malah lebih mirip sama Miyabi. Tapi itu ga jadi soal siapa tau nanti ternyata malah sutradaranya yang milih Miyabi jadi Annelis, berarti terjadi penggantian judul film menjadi Bumi Manusia X.

Penutupan dalam novel ini bagi saya sangat menyedihkan, dimana pada akhirnya Mingke dipaksa untuk berpisah dengan Annelis tanpa dapat berbuat apapun. sayapun sempat meneteskan airmata di akhir bab ini dan mencatat sejarah untuk pertama kalinya saya menangis gara-gara membaca sebuah novel. Tapi ya, biasa aja bung, malah jadi melankolis.

setelah membaca buku ini sangat disayangkan kalau ternyata Orde baru melarang keras beredarnya buku ini. Pernah diceritakan oleh seorang kawan bahwa dulu di Yogyakarta pernah ada seorang mahasiswa yang tertangkap tangan membawa buku ini dan langsung dijebloskan ke dalam penjara selama 1 tahun. Padahal tidak ada sataupun bait dalam buku ini yang menyinggung Soeharto. Katanya di buku keempat yang berjudul “Rumah Kaca” baru disana menyinggung si pemimpin fasis ini. Oh iya sekaligus saya beritahukan bahwa buku ini adalah bagian pertama Tetralogi pulau Buru. Artinya masih ada tiga serial lagi yang harus dibaca.

Moral of the story dari buku ini adalah “Apa yang membedakan seorang terpelajar dengan yang tidak? seorang terpelajar sudah adil sedari pikiran, apalagi perbuatan”-Pramudya Annanta Toer.

Book and Film


 


9 Responses to “Bumi Manusia”

  1. Irwan Bajang Says:

    ternyata ilmuan2 luar negeri sangat menggandrungi novel ini untuk pelajari sejarah indonesia..mereka selalu merekomendasikan untuk para peneliti indonesia agar membaca ini

    hmmmmmmmmmm

  2. gunawanrudy Says:

    Sudah baca keempat-empatnya, bung? :D
    Oh ya, sekalian juga dengan karya-karya Romo Mangun dan Seno Gumira Ajidarma yang tak kalah memukaunya. ;)

    Selamat bertualang di alam Pram!

    *sambil merapikan koleksi buku-buku Pram*

  3. hamlennon Says:

    Klo romo mangun dah pernah bung, kumpulan cerpen, lupa judulnya. Nah klo Bung Seno kayaknya belum deh. Tapi beberapa bukunya seperti Matinya Seorang Penari Telanjang, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, Negeri Senja, sering berkelebat di tanganku, hanya lewat, hhaahahaha. Kawan renggo salah satu penggemar setia bung Seno!!!

  4. gunawanrudy Says:

    Kalau mau nyantai sih, baca tulisan2 pendek seno aja. macam kumpulan “surat dari palmerah”-nya majalah jakarta jakarta (di-online-kan di sukab.wordpress.com).

    oiya, masih di jogja? kalau iya pertengahan agustus ini ISI ngadain pementasan opera “IBU — Yang Anaknya Diculik Itu”, adapasi dari karya seno.

    btw, sampai sekarang aku masih belum punya buku pram yg “sang pemula”. padahal itu juga merupakan kisah rm tirto / minke. :|

  5. hamlennon Says:

    Mau? ada bung. Tentang TAS, Tirto Adi Suryo. Sampulnya muka TAS. Klo buku itu jg sering berkelebat di tangan bung. Nanti saya fotocopykan, soalnya mau saya salin juga. Buku langka tuh, karena buku itu cepat berputar dari tangan ke tangan oleh kawan-kawan. Maka dari itu harus dilakukan langkah-langkah penyelamatan, hahahaha. Pasti ujung-ujungnya ilang sih. Boleh tuh mari kita nonton.

  6. gunawanrudy Says:

    haduh, aku lagi sering keluar jogja. maklum dinas. :(

    oiya info operanya ada di grup fesbuknya (bikinan bung leksa/fakhrizal tuh). http://www.facebook.com/group.php?gid=28438946352

    sila dicek. :D

  7. gunawanrudy Says:

    yah, pasti komenku masuk spam akismet :|

  8. hamlennon Says:

    Ga masuk spam kok. Ooh bung leksa, dia teman satu kampus, satu jurusan lagi. Tapi saya udah lama ga ngampus, jadi ga ketemu. Maklum Mahasiswa paska teori, hehehe. Dengar dari seorang teman, tiket masuknya mahal tuh, sekitar 40 rb untuk pelajar. Saya jadi berpikir ulang…..

  9. agn Says:

    WOOW ini buku fave saya!! Kisah cinta berbalut nasionalisme, tulisannya sangat manis dan pedih gitulah. Hehehe.. Saya suka dengan apa yg dikatakan Nyai Ontosoroh di bagian akhir tulisan setelah kalah di pengadilan yg isinya kurang lebih,
    “Kita memang kalah sinyo, tapi setidaknya kita telah berusaha”

    Inspiring banget!!!

Leave a Reply