<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Paperback Writer</title>
	<atom:link href="http://ilhampandu.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ilhampandu.com</link>
	<description>Dear Sir, Madam, would you read my blog?</description>
	<lastBuildDate>Sat, 16 Jul 2011 11:17:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Spontan</title>
		<link>http://ilhampandu.com/spontan/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/spontan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jul 2011 10:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[I Me Mine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Posting kemarin adalah postingan pertama saya setelah lama tidak ngeblog. Ya, sekitar setahun lebih. Sulit sekali mendapatkan mood untuk menulis di blog belakangan ini. Ada beberapa halangan yang membuat saya merasa enggan untuk menulis. Kesibukan bisa menjadi apollogy, tapi sebenarnya bukan itu masalah utamanya. Sebab saya masih menulis di buku diary saya. Old Fashion memang, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="Notebook" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2011/07/notebook.jpg" alt="Notebook" width="137" height="137" />Posting kemarin adalah postingan pertama saya setelah lama tidak ngeblog. Ya, sekitar setahun lebih. Sulit sekali mendapatkan <em>mood</em> untuk menulis di blog belakangan ini. Ada beberapa halangan yang membuat saya merasa enggan untuk menulis. Kesibukan bisa menjadi <em>apollogy</em>, tapi sebenarnya bukan itu masalah utamanya. Sebab saya masih menulis di buku diary saya. <em>Old Fashion</em> memang, tapi saya merasa hal itu lebih nyaman karena terkadang hal ya saya tulis terlampau pribadi untuk dipublikasikan.<span id="more-159"></span></p>
<p>Dan bagaimana dengan hal yang diluar masalah pribadi, seperti resensi buku dan film? Atau kondisi realitas masyarakat terkini, ekonomi politik? Kenapa masih juga tak bisa diabadikan dalam bentuk tulisan?</p>
<p>Baiklah, begini ceritanya. Semakin banyak hal yang kita tau, kita merasa semakin bodoh. Begitu juga dengan realitas masyarakat kontemporer. Rasa itu lah yang membuat saya tidak yakin saat akan mempublikasikan suatu tulisan. Bisa saja hasil pembacaan saya salah karena terlalu dangkal dalam memandang suatu masalah. Mungkin saya menganggap hal ini terlalu serius, seakan-akan blog ini adalah produk jurnalisme mapan dengan tulisan yang &#8220;<em>pancen oye</em>&#8220;. Padahal Blog adalah saya, cerminan yang benar-benar menggambarkan diri saya apa adanya. Terima saja kritikan orang, toh sintesis tidak akan pernah ada kalau tesis tidak berbenturan dengan antitesis.</p>
<p>Hal lain adalah perubahan saya dalam pola mengakses informasi dan pengetahuan. Dulu saya mengakses itu semua melalui <em>googling</em> dan <em>blogwalking</em>. Tanpa ada termin yang jelas, lebih bebas kemana saja. Hasrat ngeblogpun terjadi secara spontan, dan terjadi dalam sekejap karena tangan kita masih berada di atas papan <em>keyboard</em>. Sekarang, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku. Buku terminnya sangat jelas, hanya satu persoalan saja yang dibahas. Permasalahannya adalah informasi yang kita dapatkan terlampau banyak untuk satu termin bahasan. Over informasi itulah yang kontra produktif dengan menulis, karena terkadang saya belum bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan &#8220;harus mulai dari mana?&#8221;. Belum selesai pertanyaan itu dijawab kita sudah terjebak dalam buku yang lain. Dan akhirnya, dilupakan begitu saja. Juga masalah platform yang berbeda, <em>keyboard</em> terlalu jauh dari buku, jauuuh sekali&#8230;</p>
<p>Perkembangan teknologi informasi yang pesat juga mendukung situasi &#8220;<em>idle</em>&#8221; ini. <em>Microblogging</em> mereduksi blog dari tulisan menjadi <em>clekopan</em> (bahasa jawa, saya belum menemukan padanan katanya dalam bahasa indonesia). Belum lagi sensasinya yang sama persis dengan blog konvensional yaitu interaksi dengan orang lain dalam bentuk komentar atas <em>clekopan</em> kita. Hal ini kontan mengguncang <em>blogsphere</em>, para bloger rontok satu persatu. Mereka pindah beramai-ramai ke <em>Twitterland</em> dan <em>Facebookers. Blogsphere</em> tak seramai dulu.</p>
<p>Tapi saya percaya akan masa depan Blog, akhirnya hanya yang berkualitas dan produktif yang dapat bertahan. Menyebabkan para Blogger berada di &#8220;kelas&#8221; yang istimewa. Dengan konsep <em>citizen journalism</em>, blog adalah penyambung lidah rakyat di era revolusi informasi.</p>
<p>Sayapun masih mencari taktik yang efektif agar tetap spontan dalam menulis blog. Dengan <em>googling</em> ataupun dengan buku, tetap saja ide harus diabadikan. Spontan saja, biarkan dialektika terjadi&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/spontan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ringo 70</title>
		<link>http://ilhampandu.com/ringo-70/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/ringo-70/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jul 2011 10:39:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beatles]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin ( 7 Juli ) tepat hari Ulang tahun ke-70 Ringo Star. Mantan drumer The Beatles ini merayakannya dengan menggelar konser di NYC Radio City Music Hall bersama band bentukannya, All Star Band. Dalam usianya yg sudah tidak muda lagi, Ringgo masih tetap produktif dengan sering menggelar konser di beberapa negara Eropa dan Amerika. Kebetulan, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a title="RIngo Star" href="../wp-content/uploads/2011/07/Ringo-Starr-To-Be-Producer-On-His-Album-For-First-Time1.jpg"><img class="aligncenter" title="Ringo Star" src="../wp-content/uploads/2011/07/Ringo-Starr-To-Be-Producer-On-His-Album-For-First-Time1.jpg" alt="Ringo Star" width="346" height="233" /></a></p>
<p>Kemarin ( 7 Juli ) tepat hari Ulang tahun ke-70 Ringo Star. Mantan drumer The Beatles ini merayakannya dengan menggelar konser di NYC Radio City Music Hall bersama band bentukannya, All Star Band. Dalam usianya yg sudah tidak muda lagi, Ringgo masih tetap produktif dengan sering menggelar konser di beberapa negara Eropa dan Amerika.<span id="more-156"></span></p>
<p>Kebetulan, di hari yang sama saya menonton “(500) Days of summer” sebuah film drama komedi yang bercerita tentang sepasang kekasih yg menjalin hubungan dengan cara yang “unik”, Zooey Deschanel adalah alasan utama saya menonton film ini. Dalam satu adegan terjadi perbincangan dalam sebuah toko piringan hitam bekas, kebetulan mereka berdua memiliki selera musik “lawas”. Summer (Zooey Deschanel) berkata, “Ringo Star adalah anggota Beatles favoritku”. Hal tersebut membuat Tom (Joseph Gordon) tertawa terbahak-bahak seakan tak percaya dan berkata, “tidak ada seorangpun yang mengidolakan Ringo”. Summer pun membalasnya dengan “itu dia alasan kenapa aku suka Ringo Star”. <em>Ooooh C’mon…</em></p>
<p>Kehadiran Ringo dalam Band The Beatles memang kontroversial, dia menggantikan Pete Best untuk mengisi posisi penggebuk drum. Konon katanya fans Pete Best tidak terima dengan keputusan ini, hingga memicu perkelahian antara kelompok ini dengan The Beatles di sebuah Cafe. George Harrison (<em>lead guitar</em> The Beatles) dikabarkan mendapat luka lebam karena keributan ini. Ringo dikenal sebagai anggota The Beatles yang paling konyol, paling hobi membanyol dan gerak-geriknya seringkali kocak. Punya hobi mengoleksi cincin bermata besar dan mengenakannya saat konser-konser The Beatles. Hal itulah yang menyebabkan pria bernama asli Richard Starkey ini dijuluki Ringo Star.</p>
<p>Beberapa literatur juga menceritakan bahwa kontribusi Ringgo sangat besar dalam menjaga keutuhan The Beatles, album terakhir mereka “Abbey Road” dan “Let it Be” bisa saja gagal dirampungkan kalau saja Ringo tidak membujuk anggota yang lain agar mau menyelesaikan album ini. Pada masa-masa akhir The Beatles terjadi perseteruan internal diantara anggota band lainnya hingga akhirnya The Beatles bubar di Tahun 1970.</p>
<p>Konser Ringo yang dilaksanakan tepat pada tanggal kelahirannya ini diwarnai kejutan! Tiba-tiba saja, sekitar pukul 10 malam, Paul McCartney hadir di tengah-tengah konser. Kontan saja, para penonton berteriak histeris, panggung meledak! Sir Paul langsung menyanyikan lagu “Birthday” dari The Beatles. Luar biasa. Menonton rekaman ini saja via Youtube membuat saya meneteskan air mata, apalagi mereka yang hadir disana, saya tidak bisa membayangkan.</p>
<p style="text-align: center;"><em>Surprise</em> dari Paul McCartney:</p>
<p style="text-align: center"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/p5sgVi88SXU" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://www.youtube.com/v/p5sgVi88SXU" wmode="transparent"></embed></object></p>
<div>
<div><strong> </strong></div>
</div>
<p>Belum selesai konser, Ringo menyanyikan lagu “With A Little Help from My Friend” dari album The Beatles “Sgt Pepper Lonely Heart Club Band”. Lagi-lagi datang kejutan untuk Ringo, beberapa musikus teman dekatnya ikut hadir. Sebuat saja Van Zandt (Bruce Springsteen), Nils Lofgren (E Street), Jeff Lynne (Electric Light Orchestra), Joe Walsh (The Eagles) dan tentu saja Yoko Ono (penyebab Beatles bubar). Panggung luar biasa meriah. Kalau anda membeli tiket pertunjukan ini, tentu anda tak akan rugi.</p>
<p style="text-align: center;"><em>With A Little Help from</em> Yoko Ono and friends:</p>
<p style="text-align: center"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/cDNTVuoskOU" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://www.youtube.com/v/cDNTVuoskOU" wmode="transparent"></embed></object></p>
<div>
<div><strong></strong></div>
</div>
<p>Menurut keterangan beberapa media yang saya baca, Ringo sangat terkejut oleh sekian “acara dadakan” ini. Padahal Sir Paul sempat berlatih bersama All Star Band untuk membawakan lagu “Birthday” sebelum konser dimulai. Tentu saja tanpa sepengetahuan Ringo Star. Musikus kelahiran Liverpool ini sangat puas dengan acara konser malam itu.</p>
<p>Untukmu Ringo, jangan dengarkan apa yang dikatakan Tom dalam film (500) Day of Summer karena kami semua, para pecinta The Beatles, tidak akan pernah menyisihkanmu. Karena The Beatles adalah kalian berempat, kalian berempat adalah The Beatles.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>We All (still) love you! Happy 70th Aniversary Ringgo!</strong></p>
<p style="text-align: center;"><a title="Ringo Star drum set Ludwig" href="../wp-content/uploads/2011/07/ringo_drums.jpg"><img class="aligncenter" title="Ringo Star" src="../wp-content/uploads/2011/07/ringo_drums.jpg" alt="Ringo Star" width="331" height="306" /></a></p>
<p>image source: beatcrave.com &amp; pvg.edu.lv</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/ringo-70/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>StereoMan</title>
		<link>http://ilhampandu.com/stereoman/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/stereoman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jun 2010 17:59:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hamlennon</dc:creator>
				<category><![CDATA[I Me Mine]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Mana yang lebih bagus menurut anda, sound yang mono (Monophonic) atau stereo (Stereophonic)? kalau saya tentu memilih yang stereo. Sebab suara yang keluar dari speaker terdengar lebih realistis dengan sistem dua arah output. Tak heran di masa kemunculannya di dekade 60-an, teknologi ini langsung digandrungi para pendengar musik di seluruh dunia. Tapi kali ini saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-144" title="h-bowen-norman" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/06/h-bowen-norman.jpg" alt="h-bowen-norman" width="100" height="118" />Mana yang lebih bagus menurut anda, sound yang <em>mono</em> (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Monophonic" target="_blank">Monophonic</a>) atau<em> stereo</em> (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Stereophonic_sound" target="_blank">Stereophonic</a>)? kalau saya tentu memilih yang <em>stereo</em>. Sebab suara yang keluar dari speaker terdengar lebih realistis dengan sistem dua arah output. Tak heran di masa kemunculannya di dekade 60-an, teknologi ini langsung digandrungi para pendengar musik di seluruh dunia. Tapi kali ini saya tidak menulis tentang teknologi instrument musik, tapi saya ingin membahas tentang <em>Stereoman</em> (istilah buatan saya sendiri).<br />
<span id="more-140"></span><br />
<em></em></p>
<p><em>Stereoman</em> adalah tipikal manusia yang memiliki dua keahlian yang digeluti secara serius. Bisa dari dua fakultatif keilmuan yang berbeda maupun non fakultatif seperti skill. Siapa sajakah orang-orang yang termasuk dalam kategori seperti ini? Dan bagaimana &#8220;suara&#8221; mereka?</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-medium wp-image-146  aligncenter" title="Bowen's-reaction-series1" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/06/Bowens-reaction-series1-300x200.png" alt="Bowen's-reaction-series1" width="300" height="200" /></p>
<p>Dalam ilmu kebumian kita mengenal <strong>Prof Norman L Bowen</strong>. Karyanya yang paling terkenal adalah <em>Bowen&#8217;s Reaction series</em>, sebuah bagan yang menggambarkan suatu proses bagaimana mineral terbentuk. Kristal bergabung menjadi mineral, mineral bergabung menjadi batuan dan gabungan batuan inilah yang kita sebut dengan kerak bumi, tempat umat manusia membangun peradaban. Beliau melakukan pendekatan secara kimia fisik terhadap proses pembentukan mineral yang berasal dari proses pembekuan magma. Tentu untuk melakukan riset semacam ini beliau harus menguasai dua ilmu sekaligus, yaitu ilmu kimia dan ilmu geologi. Teori ini menghancurkan kesadaran mistis masyarakat tentang kekayaan alam. Teori ini merasionalisasikan sekian pertanyaan kita tentang semua kemakmuran yang tersimpan dalam perut bumi. Teori ini juga menjadi dasar untuk pengembangan cabang-cabang ilmu kebumian yang lain terutama di bidang explorasi.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-147" title="Steve_Jobs" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/06/Steve_Jobs-150x150.jpg" alt="Steve_Jobs" width="150" height="150" />Lalu bagaimana dengan <strong>Steve Jobs</strong>? pendiri <em>Apple Corporation</em>. Tentu anda mengenal beliau. Karena bisa jadi komputer yang sedang anda gunakan ini juga menggunakan Sistem Operasi (SO) <em>Macintosh</em>.Pada awal masa kuliahnya Steve Jobs harus <em>Drop Out</em> dari Reed College di Portland, Oregon. Lalu akhirnya dia mengambil semacam kursus di bidang <em>Caligraphy</em> karena Steve juga sangat tertarik dengan bidang seni. Steve mengakui kalau saja dia tidak di DO dari Reed College bisa jadi <em>Macintosh</em> tak akan &#8220;secantik&#8221; ini. Ternyata dengan kemampuannya di bidang TI dan seni akhirnya dia dapat membuat SO komersil pertama di dunia yang dilengkapi dengan Graphical User Interface (<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Graphical_user_interface" target="_blank">GUI</a>) sehingga memudahkan para pengguna komputer untuk mengakses data. Tidak lama, Bill Gates juga merilis <em>Windows</em>. Unsur artistik juga sangat dominan dalam setiap produk <em>Apple Corp</em>. Sebut saja<em> IPod, IPhone, IMac </em>dan<em> Ipad</em>. Tidak heran kalau<em> Macintosh</em> lebih digandrungi para <em>Designer Graphic</em> ketimbang <em>Windows</em>.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-151" title="soekarno" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/06/soekarno-150x150.jpg" alt="soekarno" width="150" height="150" />Nah bagaimana dengan indonesia? kita memiliki<strong> Ir. Soekarno</strong>, Sang Proklamator. Disiplin ilmu beliau adalah teknik tata kota. Tapi beliau juga menjadi tokoh pergerakan yang disegani di masanya. Beliau menguasai teori sosial politik dan teori ekonomi politik yang menjadi skill dasar seorang pemimpin gerakan. Beliau juga mengadopsi <em>Marxisme</em> dengan merilis paham baru yang disesuaikan dengan lokalitas masyarakat indonesia, <em>Marhaenisme</em>. Tentu bangsa ini bangga pernah memiliki tokoh secerdas beliau. Berhubung saya bukan <em>Soekarnois</em>, jadi ya biasa aja. Hehehehe&#8230;</p>
<p>Tapi apakah masyarakat kita sudah bisa mengapresiasi kehadiran<em> stereomans</em> dalam segala bidang kehidupan? Ternyata tidak semua. Sebenarnya tulisan ini didedikasikan untuk seorang kawan yang terdepak dari dunia <em>broadcast</em>.</p>
<p>Bunga (nama samaran) adalah seorang Mahasiswi Teknik, tapi Bunga sangat menggandrungi bidang<em> broadcasting</em> dan ingin menjadi seorang penyiar radio. Akhirnya dia memulai dari awal dengan mengikuti sekolah <em>broadcast</em>. Diluar perkiraannya dia diberi kesempatan untuk magang di sebuah station radio. Tidak lama kemudian, karena performanya yang semakin bagus dia diberi kesempatan untuk berkompetisi bersama yang lainnya untuk mengisi kekosongan kursi penyiar di Radio tersebut. Ternyata dia memenuhi syarat untuk bisa menjadi penyiar karena memiliki skill yang dibutuhkan oleh radio tersebut. Hanya saja pada saat akhir keputusan pihak manajemen meragukan kesanggupannya dalam mengatur jadwal onair berkaitan dengan kesibukan praktikumnya. Padahal dia mengatakan sudah sanggup dan melakukan sekian persiapan untuk hal-hal tersebut. Akhirnya diapun tetap tak diterima, dia sangat kecewa. Yang membuat saya kecewa adalah pihak menejemen menghiburnya dengan berkata &#8220;sudahlah ga usah terlalu dipikirkan, toh kamu kan anak teknik yang nanti ga akan kerja di bidang broadcast&#8221;. Sungguh menggecewakan. Bisa jadi itu niatan mereka sedari awal.</p>
<p>Sayang sekali padahal dia sangat berbakat. Tidak terbayangkan apabila hal tersebut menimpa saya, anda berbakat tetapi anda tidak difasilitasi. Pasti rasanya sangat menyakitkan. Tapi apakah <em>stereomans</em> bernasib sama? Ternyata ada yang bernasib lebih beruntung. Masih sama di bidang media tapi lebih tepatnya di bidang jurnalistik.</p>
<p>Seorang kawan yang bergelut di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) mengatakan bahwa beruntunglah kalian yang memiliki skill jurnalis tetapi memiliki disiplin ilmu diluar ilmu komunikasi. Karena media dewasa ini lebih menyukai orang-orang dengan basic ilmu tertentu untuk menunjang kerja-kerja jurnalisnya, misalkan Sarjana ilmu kebumian yang nantinya ditugaskan khusus untuk meliput tentang topik-topik yang berhubungan dengan ilmu kebumian. Bagi saya, hal seperti ini ada benarnya. Saya pernah mendengar dari seorang alumni geologi yang merasa bahwa saat-saat wawancara dengan media adalah saat-saat yang melelahkan. Para wartawan sangat sulit mengerti istilah-istilah kebumian dan harus diterangkan berkali-kali. Lalu selang beberapa waktu mereka datang kembali dan masih menanyakan hal yang sama. Dia berkata &#8220;sepertinya mereka cepat lupa, padahal saya sudah memberi mereka semacam buku pengantar yang mudah dibaca, pasti mereka tidak membaca buku yang saya berikan&#8221;.</p>
<p>Tapi lucunya banyak sarjana sains yang <em>Monoman</em>. Mereka sudah merasa sangat yakin bahwa hanya dengan bidang ini saja mereka bisa sejahtera. Jadi sangat jarang dari mereka yang ingin menjadi jurnalis atau belok ke bidang lainnya. Ya, kebanyakan sarjana/mahasiswa sains adalah <em>Monoman</em>. Karena mereka adalah golongan yang paling positivistik dalam memandang dunia. Itu sebabnya kebanyakan dari mereka berakhir menjadi Buruh.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-148" title="leonardo_davinci" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/06/leonardo_davinci-150x150.jpg" alt="leonardo_davinci" width="150" height="150" />Jadi begitulah jejak langkah para <em>stereoman</em>. Ada yang menjadi pahlawan, namanya terus dikenang dalam sejarah. Tentu atas kontribusinya bagi peradaban manusia. Lalu ada yang tersingkir karena orang lain memandang sebelah mata kemampuannya. Adabaiknya kita tidak menutup potensi seseorang dalam mengekspresikan bakatnya. Siapa sangka, dia akan menggemparkan dunia!</p>
<p>NB: Sebenarnya masih banyak lagi <em>Stereoman</em>, saya malah belum menyebutkan nama <strong>Leonardo Da Vinci</strong>. Bisa jadi dia bukan <em>Stereoman</em>. Lebih canggih dari itu, dia adalah<em> Soroundman</em>!(<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Surround_sound" target="_blank">SoroundSound System</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/stereoman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Partai Dinasti Indonesia</title>
		<link>http://ilhampandu.com/partai-dinasti-indonesia/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/partai-dinasti-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 13:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hamlennon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reaksioner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik menulis tentang konflik internal partai ini. Lebih baik menulis tentang NU, sebuah organisasi massa yang masih punya peluang besar dalam perubahan bangsa ini. Tapi beberapa manuver politik internal di PDIP saat kongres III mereka sangat mengelitik untuk dibahas. Terutama kehadiran Budiman Sudjatmiko yang semakin bersinar. Kalangan aktivis (terutama &#8220;kiri&#8220;) sering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-137" title="megawati_big" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/04/megawati_big-300x153.jpg" alt="megawati_big" width="300" height="153" /></p>
<p>Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik menulis tentang konflik internal partai ini. Lebih baik menulis tentang NU, sebuah organisasi massa yang masih punya peluang besar dalam perubahan bangsa ini. Tapi beberapa manuver politik internal di PDIP saat kongres III mereka sangat mengelitik untuk dibahas. Terutama kehadiran Budiman Sudjatmiko yang semakin bersinar.<span id="more-130"></span></p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-135" title="budiman-rakyatmerdeka.co.id" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/04/budiman-rakyatmerdeka.co.id-150x150.jpg" alt="budiman-rakyatmerdeka.co.id" width="150" height="150" />Kalangan aktivis (terutama &#8220;<em>kiri</em>&#8220;) sering membicarakan tindak tanduk eksponen 98 yang satu ini. Ada yang kontra, ada juga yang mendukung. Bagi mereka yang kontra, langkah Budiman untuk bergabung dengan partai berlambang banteng ini tentu merupakan suatu kesalahan besar. Tanpa didukung sebuah konstituen yang kuat, tentu Budi hanya menjadi bulan-bulanan di tengah para gajah yang sudah lebih senior berada di partai yang didirikan oleh Megawati ini. Belum lagi perilaku para aktivis yang paska mereka bergabung dengan Partai malah lupa dengan janji &#8220;Revolusi&#8221;-nya. Terbuai dengan kekuasaan dan harta yang ditawarkan di panggung politik. Secara lebih ideologis kritikpun disampaikan dengan lebih pedas, memangnya bisa merubah bangsa ini dengan kekuasaan tanpa membangun kesadaran grassrootnya terlebih dahulu. Itu sama saja omong kosong kata mereka. Mengingat sejarah bangsa ini yang memiliki tokoh-tokoh cerdik pandai yang merakyat tapi tetap terpental dari pertarungan politik. Lengsernya Gus Dur harusnya menjadi sebuah pelajaran penting bagi bangsa ini.</p>
<p>Bagi mereka yang mendukung menganggap bahwa perjuangan kita juga harus juga disupport dari parlemen melalui orang-orang kita sendiri yang berkesempatan untuk duduk disana. Tentu perjuangan kita akan lebih mudah kiranya. Bukankah perjuangan kita juga ujung-ujungnya adalah kekuasaan? Walaupun politik sangat abu-abu dan dunia gerakan sangat hitam-putih tapi perlu ada ke sinergisan antara keduanya. Bagaimana kita bisa menggolkan beberapa agenda kerakyatan tanpa hadirnya &#8220;orang kita&#8221; disana yang bisa melakukan loby-loby politik di tingkatan elit politik? Terdengar merdu memang tapi masih sangat experimental dan masih kental aroma bertaruh karena situasinya masih sangat meraba.</p>
<p>Jadi menurut anda bagaimana? mana yang benar? entahlah. Saya lebih suka dengan pilihan <em>extraparlementer</em> yang belum bisa maksimal kita kerjakan. Baru setelah itu kita evaluasi lagi taktik dan strategi kita ini.</p>
<p>Tapi dibalik itu situasi internal PDIP juga mulai mebuat kuping saya gerah. Keluarga tidak akur, yang kena imbasnya Partai. Perpecahan Keluarga sama dengan Perpecahan Partai. Luar biasa sekali keluarga Bu Mega ini. Partai sudah tidak ubahnya sebuah Dinasti kerajaan. Ibu jadi Ratu, bapak jadi Raja dan anak-anaknya menjadi pangeran-putri yang bersiap mengganti jabatan kedua orangtuanya. Katanya partai Demokratis tapi perilaku pemimpinnya masih Feodal.</p>
<p>Tidak jelas sekali idelogi partai ini. Yang saya dengar dari para konstituennya, tidak sedikit dari mereka yang memilih Megawati hanya karena dia putri Bung Karno. Padahal Bu Mega cuma sekedar anak Biologis dan bukan anak Ideologis, jadi jangan berharap akan segigih dan secerdas ayahnya dalam menyelesaikan agenda strategis kerakyatan yang pernah diperjuangankan oleh sang proklamator. Privitatisasi aset bangsa buktinya, merupakan dosa besar Megawati.</p>
<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-136" title="soekarno" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/04/soekarno-150x150.jpg" alt="soekarno" width="150" height="150" />Sejarah juga pernah mencatat kesalah besar Bung Karno yang pernah mendirikan Partai Nasionalis Indonesia (PNI). PNI sangat Patron dengan Bung Karno, hal ini meyebabkan partai ini colaps paska pengasingan Bung Karno oleh Belanda di tahun 30-an. Yang sama dari Mega ya ini. PDIP dibangun dengan sangat Patron, para DPC dan DPD masih mengangap ketokohan Megawati tidak ada yang bisa menggantikan. Artinya kita tinggal menunggu keruntuhannya saja kalau begitu.</p>
<p>Saat ayahnya melakukan hal yang benar dan berani dengan menolak bantuan asing (GO HELL WITH YOUR AID), Megawati malah tunduk dengan IMF dan menjual aset negara sebagai hasil negoisasinya. Lalu saat ayahnya melakukan kesalahan dengan Patronnya PNI terhadap Soekarno malah Megawati masih melakukan kesalahan yang sama. Lengkaplah sudah blunder Megawati.</p>
<p>Lucu memang melihat situasi ini. Budiman kian bersinar di Partai yang mulai memudar. Kita lihat saja bagaimana kisah ini berlanjut. Biar waktu yang membuktikan siapa yang benar dari perdebatan tentang Budiman dan biarkan waktu yang membuktikan seberapa lama lagi kah kita melihat bendera PDIP masih berkibar menjelang PEMILU. Masih banyak kerja yang harus kita lakukan kawan daripada mengurusi persoalan seperti ini. Teruslah bekerja! bagi kamu-kamu yang masih percaya bahwa Revolusi adalah Praktek.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/partai-dinasti-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bagai Aksi dan Reaksi</title>
		<link>http://ilhampandu.com/bagai-aksi-dan-reaksi/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/bagai-aksi-dan-reaksi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 19:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beatles]]></category>
		<category><![CDATA[Reaksioner]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Gus Dur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah kawan kalau ternyata cinta persis seperti Hukum ke-3 Newton, yaitu Hukum Aksi-Reaksi. Didahului dengan aksi lalu menghasilkan sebuah reaksi. Bukan bermaksud positivistik terhadap rasa cinta itu sendiri. Bahkan saya mengartikan cinta secara lebih universal disini, bukan sebatas cinta antara dua insan saja ( sejenis ataupun berlainan jenis, hehehe). Sebesar apakah anda berharap untuk mendapatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/02/abdurrahman_wahid-gus_dur.jpg" alt="" width="349" height="261" /></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Tahukah kawan kalau ternyata cinta persis seperti Hukum ke-3 Newton, yaitu Hukum Aksi-Reaksi. Didahului dengan aksi lalu menghasilkan sebuah reaksi. Bukan bermaksud positivistik terhadap rasa cinta itu sendiri. Bahkan saya mengartikan cinta secara lebih universal disini, bukan sebatas cinta antara dua insan saja ( sejenis ataupun berlainan jenis, hehehe).<span id="more-124"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Sebesar apakah anda berharap untuk mendapatkan cinta dari orang-orang di sekeliling anda? baik itu pasangan anda, keluarga, bahkan masyarakat di lingkungan anda. Sewajarnya anda harus menunjukan dahulu sebesar apa kecintaan anda terhadap mereka semua, sebesar apa usaha dan pengorbanan yang telah anda berikan kepada mereka sampai terciptanya perubahan yang benar-benar kita inginkan bersama.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Dan hasilnya, sejarah mencatat dengan tinta emas nama-nama mereka yang dengan perjuangan mereka dan tentunya kecintaan mereka yang besar terhadap sesama manusia sehingga tercapainya sebuah perubahan yang dinantikan. Dan sejarah juga mebuktikan bagaimana orang-orang tetap mengenang para pahlawan tersebut sampai sekarang.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Saya teringat dengan almarhum Abdurahman Wahid atau yang kita kenal dengan julukan Gus Dur. Semasa hidupnya beliau sangat menghormati perbedaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Bahkan beliau tidak segan-segan untuk menghapus beberapa peraturan yang menginjak-nginjak nilai kemanusian, walaupun sangat kontroversial di zamannya. Tentu ini merupakan angin segar bagi kalangan minoritas yang selama ini terkekang dan tertindas. Mereka adalah golongan keturunan Tionghoa, penduduk Papua dan keluarga korban pembantaian 65. Tentu kita bisa menilai dan mengukur seberapa besar kecintaan beliau terhadap bangsa ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Setelah Gus Dur meninggal, kita bisa melihat bagaimana bangsa ini memberikan penghormatan yang sangat besar bagi almarhum Gus Dur. Bahkan tidak diperlukan waktu yang lama untuk sebagian masyarakat yang ingin mengajukan Gus Dur sebagai pahlawan Nasional. Masyarakat di Papua bahkan mengelari mantan Presiden Ke-4 ini dengan sebutan &#8220;Bapak Perdamaian Papua&#8221;. Dan kita juga menyaksikan beberapa aksi lintas agama untuk mendoakan keselamatan arwah Gus Dur.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Dan bagaimana dengan mereka yang bersebrangan? yang menggunakan kekuasaan dan kekuatannya untuk kepentingan dirinya sendiri ataupun golongannya. Mengacuhkan keberadaan yang lainnya dan menindas mereka yang lemah, menistakan kemanusiaan itu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Sejarah juga mencatat mereka dengan catatan kelam, sebuah tragedi kemanusiaan. Para arsitek dan pelaksana pembantaian di negeri ini mungkin bisa dimaafkan oleh sebagian orang. Tapi masyarakat tetap tidak akan pernah memilih untuk melupakan ini semua. Seakan-akan kebencian ini tidak akan pernah bisa hilang. Sang penebar kebencian pada akhirnya harus menerima kebencian yang sama dari masyarakatnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Kata orang bijak “Hidup Manusia harus ada CINTA dan PERJUANGAN agar seimbang, CINTA tanpa PERJUANGAN akan menjadikannya MELANKONIS dan gampang PATAH HATI &amp; PUTUS ASA, sedangkan PERJUANGAN tanpa CINTA akan menjadikannya ANARKIS, BRUTAL dan TERORIS“</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Sebesar apakah cinta yang kau harapkan dari bangsa ini, dari negeri ini? Masihkah kita ingin melihat Indonesia dengan wajahnya yang makmur? <em>Gemah ripah loh jenawi</em> kata orang jawa. Ataukah tetap pasrah menerima nasib kita sekarang sebagai bangsa yang masih buram dalam menatap masa depan.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">Dan bagaimana dengan kita? Masihkan kita mencintai negeri ini. Apakah negeri ini sesuai dengan yang kita harapkan kawan? Kalau belum, bersediakah anda untuk berjuang untuk perubahan. Karena hanyalah perjuangan yang dapat menyambungkan antara harapan dengan kenyataan. Sebagai penutup, ingatlah kawan bahwa <em>cinta yang kita terima akan sebanding dengan cinta yang telah kita curahkan</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center">&#8220;The Love you take is equal with the love you make&#8221;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em>The End</em> by The Beatles</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/bagai-aksi-dan-reaksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalah bertaruh!</title>
		<link>http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 11:50:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reaksioner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya agak cemas dengan situasi perburuhan belakangan ini. Terutama setelah aksi 28 januari kemaren. Pertanyaan besarnya adalah &#8220;Mengapa serikat-serikat buruh memutuskan untuk bergabung dalam aksi 100 hari pemerintahan SBY-Boediono?&#8221;. Jika kita sedikit mencoba untuk lebih kritis, sebenarnya aksi-aksi reaksioner belakangan ini lebih kental aroma konflik elit politik ketimbang menyuarakan hati nurani rakyat. Cobalah kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2010/02/buruh11.jpg" alt="" width="349" height="179" /></p>
<p style="text-align: center;">
<p>Sebenarnya saya agak cemas dengan situasi perburuhan belakangan ini. Terutama setelah aksi 28 januari kemaren. Pertanyaan besarnya adalah &#8220;Mengapa serikat-serikat buruh memutuskan untuk bergabung dalam aksi 100 hari pemerintahan SBY-Boediono?&#8221;.<span id="more-111"></span></p>
<p>Jika kita sedikit mencoba untuk lebih kritis, sebenarnya aksi-aksi reaksioner belakangan ini lebih kental aroma konflik elit politik ketimbang menyuarakan hati nurani rakyat. Cobalah kita lihat manuver-manuver pansus Century. Kalau nyatanya gerakan-gerakan mahasiswa dengan warna-warni benderanya kamu anggap sebuah gerakan &#8220;murni&#8221;, mohon maaf kawan mereka juga sebenarnya terafiliasi dengan partai-partai politik.</p>
<p>Apa mungkin kelas buruh juga sudah mulai terbuai oleh media massa yang belakangan ini tidak kalah reaksionernya. Menyiarkan kasus Century secara simultan dan terus-menerus hampir 24 jam. Seakan-akan kita dipaksa resah untuk ini semua dan tentunya media juga yang akhirnya akan mendapatkan untung dari situasi ini. Oplah mereka naik dan masyarakat akan <em>bejibun-jibun</em> di depan televisi, menjadi <em>bergain</em> yang cukup untuk memikat kaum <em>advertising</em>.</p>
<p>Bukankah buruh masih berbicara tentang pertentangan kelas? Bukankah satu-satunya jalan agar kita (buruh) terlepas dari penindasan adalah revolusi, pembagian alat produksi sama rata. Tapi cobalah kita pikir, kasus ini mau dibawa kemana? Bisakah isu ini didorong untuk revolusi?</p>
<p>Gerakan 28 Jan jelas-jelas berupaya untuk mendelegitimasi kepimpinan Rezim SBY-Boediono. Turunkan SBY, adalah salah satu tuntutan mereka. Lalu kalau SBY turun, siapa yang menggantikan? ooh jelas, mereka-mereka para elit politik yang akan menikmati keuntungan yang paling besar. Dapat posisi baru yang lebih strategis. Lalu buruh dapat apa? Mahasiswa dapat apa? Buruh balik ke pabrik, kerja lagi, diperas lagi. Mahasiswa balik ke kampus, belajar lagi, trus cepat lulus, cari kerja lantas jadi buruh. Selamat datang di dunia perburuhan. Dan mereka para elit politik akan terus melakukan deal-deal ekonomi yang membolehkan para pemodal untuk mengeruk kekayaan bumi indonesia beserta budak-budak pribumi berupah murah sekaligus.</p>
<p>Ayolah kawan, apakah kalian buta sejarah. Masih ingat 66, 74 dan 98. Bukankah Mei 98 adalah pelajaran, REFORMASI telah GAGAL. Hanya menurunkan rezim Soeharto, itu saja titik. Lalu kalian mau mengadakan reformasi lagi kali ini. Kapaaan kita bisa revolusi bung? reformasi itu BASI!</p>
<p>Hei kaum buruh, kalian mau mencuri momentum ini? Aji mumpung. Mumpung media menyoroti maksimal jadi teriakan kalian tersampaikan. Hapus Outsorcing, Naikan Gajih buruh, Ganyang rezim imprealis, kapitalis birokrat musuh rakyat dan tolak ACFTA. Kalian pikir mereka dengar, hahahaha. Lihat hari ini hasilnya. Coba baca koran hari ini, ada yang mengangkat teriakan buruh? Kalaupun TV menyiarkan kemaren, kalian pikir mereka tertarik. Yang masyarakat tau demo ini cuma untuk menarget SBY-Boediono. Dan apa yang kalian dapat? lelah, letih dan dongkol!</p>
<p>Kalian pikir ini ajang pertaruhan? Menggelar massa secara maksimal dan berharap suara buruh didengar jutaan orang indonesia. Taruhannya terlalu besar kawan. mendatangkan buruh sekian ribu orang bukanlah hal yang mudah, saya salut dengan ini, mereka bertaruh dengan desakan pemilik pabrik yang mengancam apabila buruh tidak kerja maka kalian akan saya pecat. Tapi apa hasil pertaruhan ini, boro-boro aspirasi buruh didengar. Kalian malah hanya memperkuat jumlah massa aksi tanpa ada keuntungan yang benar-benar kongkrit. Kalian kalah besar dalam pertaruhan ini.</p>
<p>Ah sudahlah, nanti saya malah ikut dongkol. Intinya saya mengajak kawan-kawan buruh untuk tetap fokus pada agenda-agenda revolusioner, bukan malah ikut-ikutan agenda reaksioner. Isu ini tidak akan pernah bisa menguntungkan kaum buruh kecuali kalian emang kepengen <em>Show of Force</em>, alias tukang pamer tapi kopong!</p>
<p>Harusnya &#8220;buruh bersatu, tak dapat dikalahkan&#8221;</p>
<p>bukan &#8220;buruh bertaruh, tak dapat diharapkan&#8221;.</p>
<p>*picture from <cite style="font-style: normal;">iwandahnial.wordpress.com</cite></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tahun Baru &#8220;Kelabu&#8221;</title>
		<link>http://ilhampandu.com/tahun-baru-kelabu/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/tahun-baru-kelabu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 11:55:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini aku masih bingung. Apa yang harus kurayakan? Lagipula baru saja tadi siang seorang pemimpin besar bangsa ini dimakamkan. Masih merasakan kehilangan, dalam&#8230;. Lebih dari itu, dalam menatap masa depan, mengapa semuanya menjadi lebih buram? Ini bukan pesimis, hanya ingin mencoba sedikit realistis. Tapi, bagaimanapun juga kita harus tetap merayakan hidup dengan kerja keras [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://muaazu.files.wordpress.com/2008/03/crying-eye.jpg" alt="" width="300" height="299" /></p>
<p style="text-align: center;"><span id="more-106"></span></p>
<p style="text-align: left;">Malam ini aku masih bingung. Apa yang harus kurayakan? Lagipula baru saja tadi siang seorang pemimpin besar bangsa ini dimakamkan. Masih merasakan kehilangan, dalam&#8230;.</p>
<p style="text-align: left;">Lebih dari itu, dalam menatap masa depan, mengapa semuanya menjadi lebih buram? Ini bukan pesimis, hanya ingin mencoba sedikit realistis.</p>
<p style="text-align: left;">Tapi, bagaimanapun juga kita harus tetap merayakan hidup dengan kerja keras kawan. Karena Revolusi kita masih panjang.</p>
<p style="text-align: center;">&#8220;Sekali lagi kawan, sebaris lagi !&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/tahun-baru-kelabu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ruma Maida</title>
		<link>http://ilhampandu.com/ruma-maida/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/ruma-maida/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 11:08:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hamlennon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Book and Film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/ruma-maida/</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata saya memang terlalu banyak berharap dari film ini, sehingga timbul rasa kekecewaan terhadapnya. Saya kira film ini lebih baik dari film &#8220;Gie&#8221;, ternyata saya salah. Kalaupun anda masih berharap ada fakta-fakta sejarah di balik cerita ini, andapun akan kecewa karena apa yang mereka sebut sejarah ternyata hanya sebuah alur fiksi bertemakan kemerdekaan dan Reformasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Kongres Supah Pemuda dalam film “Ruma Maida”" href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/11/bts16s.JPG"><img class="alignleft" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/11/bts16s.JPG" alt="Kongres Supah Pemuda dalam film “Ruma Maida”" width="113" height="75" /></a>Ternyata saya memang terlalu banyak berharap dari film ini, sehingga timbul rasa kekecewaan terhadapnya. Saya kira film ini lebih baik dari film &#8220;Gie&#8221;, ternyata saya salah. Kalaupun anda masih berharap ada fakta-fakta sejarah di balik cerita ini, andapun akan kecewa karena apa yang mereka sebut sejarah ternyata hanya sebuah alur fiksi bertemakan kemerdekaan dan Reformasi 98.<span id="more-62"></span></p>
<p>Tapi harus diakui benar bahwa film ini mencoba mengangkat kembali beberapa nilai-nilai yang mulai luntur di masyarakat kita, yaitu kepedulian akan sejarah dan pentingnya pendidikan sebagai pembentuk karakter bangsa. Hanya saja cara perangkaiannya yang kurang smood. Seakan-akan beberapa event terjadi tanpa ditunjang dengan <em>setting</em> kondisi yang cukup detail dan karakter tokoh yang mumpuni. Untuk setting tempat sepertinya bisa saya maklumilah untuk film sekaliber indonesia.</p>
<p style="text-align: center;"><a title="Poster Film “Ruma Maida”" href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/11/2rpxpb7.jpg"><img class="aligncenter" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/11/2rpxpb7.jpg" alt="Poster Film “Ruma Maida”" width="434" height="640" /></a></p>
<p>Sang tokoh utama, Maida Manurung (Atiqah Hasiholan), merupakan seorang wanita muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Maida membuka sebuah sekolah informal khusus untuk anak-anak jalanan. Hanya saja sepertinya Maidapun terkesan cuek dengan perubahan sosial yang terjadi pada masa itu yaitu &#8220;Reformasi 98&#8243;. sepertinya <em>setting</em> reformasi 98 hanya untuk mengangkat alur sejarah yang terjadi di Indonesia tanpa mencoba untuk menyambungkan spirit pemuda pada masa itu. Masak si Maida tidak pernah membicarakan tentang orde baru, adapun paling hanya moment kegirangan Maida saat Soeharto lengser tanpa ada pembicaraan seputar Reformasi, aneh dan terkesan cuma <em>Euforia</em>.</p>
<p><a title="Ishak Pahing - salah satu tokoh dalam film “Ruma Maida”. Sang komposer lagu Pulau “Pulau Tenggara”" href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/11/ishak.jpg"><img class="alignleft" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/11/ishak.jpg" alt="Ishak Pahing - salah satu tokoh dalam film “Ruma Maida”. Sang komposer lagu Pulau “Pulau Tenggara”" /></a>Seandainya saja dalam film ini sang penulis naskah (Ayu Utami) memasukan beberapa diskursus-diskursus seputar kemerdekaan dan reformasi, tentunya ini akan menjadi nilai tambah film ini. Para pemuda dapat digambarkan benar-benar hidup dengan semangat akan perubahan nasib rakyatnya. Padahal ada satu masalah lagi di film ini yang coba diangkat, tetapi tidak terlalu dibahas lebih dalam. Yaitu perdebatan antara Soekarno dengan Bung Hatta, dimana Bung Karno lebih memilih menggapai kemerdekaan terlebih dahulu baru setelah itu membangun pendidikan. Sedangkan Bung Hatta berpendapat sebaiknya sedari sekarang kita (pada saat itu) membangun sebuah sistem pendidikan yang benar-benar ideologis baru setelah itu kita bisa menentukan kemerdekaan kita. Kalau mencoba disambungkan dengan aktivitas Maida yang lebih fokus ke masalah pendidikan, tentu saja ada benang merahnya. Bisa disambungkan dengan pilihan Maida dalam membangun sebuah sekolah alternatif sebagai ruang ideologisasi. Cerita malah jadi lebih seru kan! Bukan hanya romantisme kita dengan sejarahnya saja yang diangkat.</p>
<p><a title="Game Ruma Maida" href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/11/rumamaida285.jpg"><img class="alignleft" src="http://coba.windurentcar.com/wp-content/uploads/2009/11/rumamaida285-150x150.jpg" alt="Game Ruma Maida" width="120" height="120" /></a>Yang saya suka dari film ini adalah mereka membuat sebuah <em>game</em> sebagai media promosinya. Dapat anda liat <a href="http://www.rumahmaidagame.com/">disini</a>. Soundtrack yang mengisi film ini juga terbilang bagus, sebut saja band NAIF yang mengaransement ulang lagu &#8220;Juwita Malam&#8221;, &#8220;Di Bawah Sinar Bulan Purnama&#8221;, dan &#8220;Ibu Pertiwi&#8221;.</p>
<p>Tentu harapan saya film ini dapat menjadi stimulus bagi industri film di indonesia yang ingin mengangkat kembali beberapa event sejarah di Indonesia. Di tengah kejenuhan saya menonton film nasional yang dipenuhi KISS (KIsah Seputar Selangkangan) tentunya film ini dapat menjadi hiburan yang lebih bermutu.</p>
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;">
<p style="text-align: center;"><em>thriller</em> Film &#8220;Ruma Maida&#8221;:</p>
<p style="text-align: center"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/Zo8HEK7CAjM" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://www.youtube.com/v/Zo8HEK7CAjM" wmode="transparent"></embed></object></p>
<p>Sebagai penutup, tulisan ini hanya merupakan sebuah opini seorang pemuda yang berharap agar kenangan kita terhadap sejarah dapat disinenamakan dengan lebih baik lagi. Maju terus film indonesia!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/ruma-maida/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>When Im Sixty Four</title>
		<link>http://ilhampandu.com/when-im-sixty-four/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/when-im-sixty-four/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 09:45:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hamlennon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Beatles]]></category>
		<category><![CDATA[Politik]]></category>
		<category><![CDATA[Reaksioner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/when-im-sixty-four/</guid>
		<description><![CDATA[Saya yakin, pasti di tengah-tengah hiruk pikuk menyambut kemerdekaan, beberapa orang pasti menyempatkan dirinya untuk merenung dan merefleksikannya dalam tulisan. Tentunya para blogger mengambil bagian ini. Dan tentunya kebanyakan dari kita menulis tentang &#8220;sudah merdekakah kita?&#8221;. Maka dari itu saya lebih memilih untuk menulis yang lain. Tapi saya cuma mengingatkan, bahwa sepertinya kita selalu terjebak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Pancasila" href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/08/pancasila.jpg"><img class="alignleft" src="http://coba.windurentcar.com/wp-content/uploads/2009/08/pancasila-150x150.jpg" alt="Pancasila" width="150" height="150" /></a>Saya yakin, pasti di tengah-tengah hiruk pikuk menyambut kemerdekaan, beberapa orang pasti menyempatkan dirinya untuk merenung dan merefleksikannya dalam tulisan. Tentunya para blogger mengambil bagian ini. Dan tentunya kebanyakan dari kita menulis tentang &#8220;sudah merdekakah kita?&#8221;. Maka dari itu saya lebih memilih untuk menulis yang lain.<span id="more-58"></span></p>
<p>Tapi saya cuma mengingatkan, bahwa sepertinya kita selalu terjebak dalam refleksi semu di tengah euforia yang reaksioner, selalu reaksioner. Kita selalu menuliskan suatu yang mengkritik yang mungkin terlewatkan oleh mereka yang lupa, lupa akan masa lalunya. Kita mengkritik PEMILU lalu, tapi keikutsertakan kita terhadap PEMILU seakan-akan hanya mencoba lepas dari tangung jawab politik kita kepada rakyat. Berharap bahwa orang yang kita pilih nantinya akan menyelesaikan segalanya. Padahal, sejarah sering berkata bahwa mereka terkadang tak bisa berbuat banyak.</p>
<p>Kita merasa tidak perlu ikut serta susah payah memikirkan nasib rakyat, toh kita sudah melimpahkan tanggung jawab kita kepada mereka yang terpilih. Beginikah kualitas PEMILU kita? Dan bagaimana kualitas KEMERDEKAAN kita?</p>
<p>Saya jadi teringat tulisan Pramoedya Ananta Toer:</p>
<blockquote><p>Nah demikianlah Djakarta kita, sekian tahun setelah merdeka.</p>
<p>Barangkali engkau mengagumi kaum tjerdik-pandai jang sering diagungkan namanja disurat-suratkabar. Hanja sedikit di antara mereka itu jang benar-benar bekerdja produktif-kreatif. Jang lain-lain terpaksa mem­populerkan diri agar tak tumbang dimedan penghidup­an! Apakah jang telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini jang punja prestasi interna­sional! Di lapangan kepolitikan, apakah pantjasila telah melahirkan suatu kenjataan di mana engkau sadar di hatiketjilmu bahwa kau sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung, dan dalam sehari pada suatu hari jang tak terpilih, diutjapkan limabelas kali kata pantjasila itu baik melalui pers, radio, atau mulut orang. Sedjalan dengan tradisi pendjadjahan jang selalu dideritakan oleh rakjat kita, maka nampak pula garis-garis jang tegas dalam masa pendjadjahan priaji­-pedagang ini: orang membangun dari atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sedjarah ke­gagalan revolusi Perantjis.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Kawan, sebenarnja revolusi kita harus melahirkan satu bangsa baru, bangsa jang nomogeen, bangsa jang bisa menjalurkan kekuasaan itu sehingga mendjadi tenaga pentjipta raksasa, dan bukan menjerbit-njerbit­nja dan melahapnja sehingga habis sampai pada kita, pada rakjat jang ketjil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan kewibawaan kandas di tangan para petugas.  Petugas jang benar-benar pada tempatnja hanja sedikit, dan suaranja biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau menjadari gentingnja situasi tanah­airnja dalam lalulintas sedjarah dunia !</p>
<p>Kita mesti kerdja.</p>
<p>Tetapi apa jang mesti kita kerdjakan, bila mereka jang kerdja tak mendapat penghargaan dan hasil seba­gaimana mesti ia terima ?</p>
<p>Aku kira takkan habis-habisnja ngomong tentang Djakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini. Setidak-tidaknja aku amat berharap pada kau, orang daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke Djakarta untuk menambah djumlah tugu kegagalan revolusi kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu engkau djadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada telingaku: mana jang lebih penting, kemer­dekaan ataukah persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme setjara sadar dianggap djuga se­bagai kedjahatan atau tidak! Setidak-tidaknja aku tetap berharap kepadamu, bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanja kau melantjong ke ibukota untuk men­tjontoh kefatalan di sini.</p>
<p>Kawan, sekianlah.</p></blockquote>
<p>Tulisan tersebut diatas hanyalah penggalan dari sebuah artikel lengkap berjudul &#8220;Djakarta&#8221; yang ditulis tahun 1955.</p>
<p><a title="Paul McCartney, umurnya sekarang lebih dari 64 tahun." href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/08/paul_mccartney_large.jpg"><img class="alignleft" src="http://coba.windurentcar.com/wp-content/uploads/2009/08/paul_mccartney_large-150x150.jpg" alt="Paul McCartney, umurnya sekarang lebih dari 64 tahun." width="120" height="120" /></a>Paul McCartney (The Beatles) pernah menuliskan sebuah lagu tentang apa sekiranya yang terjadi saat kita berumur 64. Masihkah ada yang memperhatikan kita? Menjadi tua, saya cukup sentimen dengan kata ini. Bisa jadi kita menjadi kesepian dan sendiri. Sangat meresahkan, apalagi setelah saya menonton sebuah film animasi berjudul &#8220;Up&#8221; yang menceritakan seorang kakek yang di tinggal mati pasangan hidupnya. Sekiranya inilah yang membuat seorang Soe Hok Gie mendambakan mati muda.</p>
<p><em>When I&#8217;m Sixty Four</em> by <em>The Beatles</em> :</p>
<p style="text-align: center"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/tGtSpsYURAQ" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://www.youtube.com/v/tGtSpsYURAQ" wmode="transparent"></embed></object></p>
<p>Tapi dalam konteks kemerdekaan ini, siapakah kiranya yang mulai ditinggalkan. Pancasila yang semakin renta sepertinya mulai ditinggalkan para pengikutnya.Sudah mulai tidak dihiraukan bahkan beberapa kelompok berniat menggantikannya dengan ideologi lain.</p>
<p>Masihkah kita sudi untuk menemaninya kawan? Bukankah hanya tinggal kamu keluarganya&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/when-im-sixty-four/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hiroshima</title>
		<link>http://ilhampandu.com/hiroshima/</link>
		<comments>http://ilhampandu.com/hiroshima/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 14:41:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hamlennon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilhampandu.com/hiroshima/</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini enam puluh empat tahun yang lalu, dunia dikejutkan dengan sebuah tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Langit Jepang, tepatnya di atas Hiroshima, sebuah jamur raksasa yang berkomposisikan asap dan panas telah meluluhlantakan penduduk kota Hiroshima beserta kota kebanggan mereka. Sebuah pembunuhan masal dengan dalih untuk menyelamatkan nyawa yang lebih banyak kata Paman Sam. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Jamur raksasa di angkasa Hiroshima" href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/08/mushroom1.jpg"><img class="alignleft" src="http://coba.windurentcar.com/wp-content/uploads/2009/08/mushroom1-120x150.jpg" alt="Jamur raksasa di angkasa Hiroshima" width="96" height="120" /></a>Hari ini enam puluh empat tahun yang lalu, dunia dikejutkan dengan sebuah tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Langit Jepang, tepatnya di atas Hiroshima, sebuah jamur raksasa yang berkomposisikan asap dan panas telah meluluhlantakan penduduk kota Hiroshima beserta kota kebanggan mereka. Sebuah pembunuhan masal dengan dalih untuk menyelamatkan nyawa yang lebih banyak kata Paman Sam. Tapi perang bagiku tetap saja merupakan suatu puncak keserakahan manusia dan pelecehan terhadap kemanusian. <span id="more-54"></span></p>
<p>Bom itu bernama &#8220;<em>Little Boy</em>&#8221; yang ditelurkan di atas langit Hiroshima oleh &#8220;<em>Enola Gay</em>&#8221; nama sebuah pesawat B-29 yang dipiloti oleh Paul Tibbets. Sebelumnya, puluhan ilmuwan bekerja keras agar bom ini dapat diciptakan secepatnya. Proyek rahasia ini bernama &#8220;<em>Manhatan Project</em>&#8221; yang di pimpin oleh Dr. Robert Openheimer. Dikemudian hari <em>Poject Manhatan </em>menjadi judul lagu Rush dalam albumnya <em>Power Windows</em>, 1985. Pada awalnya Amerika tidak hanya mengincar Jepang tapi Jerman sekaligus. Berharap setelah bom dijatuhkan mereka akan segera bertekuk lutut ketakutan. Sebuah pilihan praktis untuk merebut kemenangan. Beberapa ilmuwan besar menyumbangkan sumbangsihnya agar bom ini tercipta termasuk salah satu ilmuwan terbesar sepanjang sejarah, Albert Einstein. Paska bom meledak di hiroshima dan Nagasaki, Einstein menyatakan penyeselannya kepada dunia.</p>
<p><a title="Little Boy" href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/08/little_boy1.jpg"><img class="alignleft" src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/08/little_boy1.jpg" alt="Little Boy" width="126" height="83" /></a>Jumlah korban mencapai ratusan ribu orang meninggal sesaat setelah bom dijatuhkan. Parahnya lagi ternyata korban yang paling banyak adalah para korban radiasi yang sempat bertahan untuk beberapa hari. Radiasi sungguh mengerikan, merupakan sebuah bahaya laten yang disebabkan oleh radiasi zat radioaktif, <em>Uranium-235</em> yang bersinar amat-sangat terang dan merambat cepat, bercampur dengan udara yang terhisap oleh tubuh.</p>
<p>Beberapa buku pernah melukiskan dengan lengkap kesengsaran yang terjadi pada penduduk kota hiroshima. John Hersey, seorang jurnalis <em>The New Yorker</em> menulis tentang buku <em>&#8220;Hiroshima, saat bom dijatuhkan&#8221;</em>, buku ini di rilis setahun setelah tragedi ini tepatnya agustus 1946. Buku ini mendapat penghargaan sebagai naskah terbaik Jurnalisme Amerika abad ke-20 yang diberikan oleh sebuah panel wartawan dan akademisi Universitas Columbia. Buku inilah yang memotivasi saya untuk menulis artikel ini. Buku ini telah menyadarkan kita tentang arti pentingnya kemanusiaan dan rasa empati sesama manusia, tanpa peduli apapun ras kita.</p>
<p style="text-align: center"><a title="Hiroshima Peace Memorial, satu-satunya gedung yang bertahan paska ledakan Bom Atom" href="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/08/hiroshimagembakudome.jpg"><img src="http://ilhampandu.com/wp-content/uploads/2009/08/hiroshimagembakudome.jpg" alt="Hiroshima Peace Memorial, satu-satunya gedung yang bertahan paska ledakan Bom Atom" /></a></p>
<p>Kalau kita pernah mendengar pembagian jaman menurut kemampuan manusia dalam mengolah alat kerjanya seperti <em>Stone Age, Bronze age, Iron Age</em>, maka paska bom Hiroshima manusia memasuki era baru, sebuah era teknologi nuklir yang kita sebut dengan Nuclear Age. Parahnya, melihat kemampuan bom Atom yang sedemikian dasyat, Uni Soviet-pun tertantang untuk mengembangkan Bom Nuklir. Dunia sempat diambang perang Nuklir, sebuah kiamat yang diciptakan oleh umat manusia sendiri. Bahkan situasi dunia sekarang mulai kembali memanas yang dipicu oleh beberapa negara Asia yang memulai uji coba Nuklir mereka.</p>
<p>Kejelian para <em>Founding Father</em> kita dalam menyimak situasi global terbukti ampuh dalam menentukan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tragedi Hiroshima dan Nagasaki yang akhirnya memaksa Jepang bertekuk lutut menjadi sinyal strategis untuk kemerdekaan bangsa ini. Walaupun akhirnya sekian puluh pertempuran harus dilakukan demi mempertahankan kemerdekaan.</p>
<p style="text-align: center"><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="425" height="355" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="wmode" value="transparent" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/_rHrV2QhArA" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="425" height="355" src="http://www.youtube.com/v/_rHrV2QhArA" wmode="transparent"></embed></object></p>
<p>Nuklir dewasa ini memnjadi harapan ditengah krisis energi yang melanda dunia, tidak terkecuali bagi Indonesia. Cukup bijaksanakah manusia untuk memposisikan kemajuan ilmu pengetahuan ini untuk tetap menyokong peradaban manusia atau malah menjadikan teknologi ini untuk memberangus peradaban manusia itu sendiri yang telah melahirkannya. Semua jawaban ada ditangan manusia, keputusan kita sendirilah yang akan menghancurkan atau menyelamatkan bumi kita. Demi kemanusiaan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilhampandu.com/hiroshima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
