Author: hamlennon

Haruskah kita waspada?

Sunday, July 19th, 2009 @ 3:04 PM

Islam RadikalTerpikir sebuah pertanyaan di benak ini, mengapa para kalangan islam radikal konservatif bisa dengan leluasa melakukan aksinya di negri ini. Apakah sebenarnya pandangan mereka cukup diterima oleh masyarakat indonesia. Karena menurut saya ideologi itu sebenarnya hampir sama seperti tumbuhan. Dia butuh suatu ekosistem yang cocok agar dapat berkembang biak dengan baik.Tentunya Vegetasi yang memiliki karakteristik iklim tropis tidak dapat tumbuh di iklim gurun.

Saya menyimpulkan bahwa selama ini masyarakat kita sudah cukup permisif dengan wacana-wacana yang dibawa oleh kalangan islam transnasional yang ingin memformalkan syariah islam di indonesia. Tentu saja ini merupakan suatu ancaman bagi pancasila yang telah dibangun oleh para founding father kita. Sebenarnya “demam syariah” sudah melanda indonesia paska orde baru tumbang, pada saat itu tiba-tiba keran demokrasi di buka seluas-luasnya. Lalu berkembanglah kembali beberapa ideologi yang pada saat soeharto masih berkuasa dilarang keras untuk dapat berkembang di indonesia, baik itu kiri maupun kanan.

Isu ini pernah mencapai puncaknya pada saat beberapa organisasi islam mainstream seperti NU dan Muhammadiyah kembali mengangkat kembali tentang konsep pembentukan negara syariah. Tetapi akhirnya setelah terjadi perdebatan internal yang cukup seru, kedua organisasi islam tersebut tetap memutuskan untuk menggunakan Pancasila sebagai dasar negara.

Tentu gerakan ini cukup mencengangkan, baik itu dari segi kaderisasi maupun metedologinya yang ternyata terbukti ampuh dapat membangun basis massa yang sedemikian besar dan solid. Mengunakan jalur dakwah di lingkungan kampus untuk membentuk basis intelektualnya belum lagi beberapa sekolah formal dan non-formal yang coba di penetrasi secara maksimal. Dan kerja keras mereka cukup berhasil sampai saat ini. Hal ini juga didukung oleh situasi masyarakat yang sudah cukup frustasi terhadap pemerintah yang sejak 63 tahun yang lalu berjanji untuk mensejahterakan rakyatnya dan sampai sekarang hal tersebut belum dapat terpenuhi.

Bukan berarti saya menuduh kalangan fundamentalis tersebut sebagai biang kerok terorisme yang dilakukan atas nama agama, tapi penjelasan saya tersebut cukup untuk menerangkan kenapa pandangan keagamaan yang ekstrem sekalipun akhirnya dapat diterima oleh beberapa kalangan masyarakat di negri ini. Bagai menyiapakan lahan yang cocok untuk tumbuhan yang akan di kembangbiakan. Akhirnya para terorisme tidak terlalu sulit untuk menggelar operasinya dan merekrut beberapa orang kader barunya yang nantinya tetap akan terus memperjuangkan ideologi mereka tersebut. Toh, masyarakat merasa kalau gerak-gerik mereka biasa-biasa saja.

Belum lagi kalau kawan-kawan pernah ingat sebuah pesan dari Bang Napi yang tidak henti-hentinya memperingatkan kita, “kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelakunya, tetapi juga terjadi karena adanya kesempatan”. Artinya kalau ada niat tapi tidak ada kesempatan, kemungkinan kejahatan itu tidak akan pernahterjadi. Dan aparat keamanan lah yang bertanggung jawab terhadap “kesempatan” tersebut. Baik itu oleh kepolisian maupun intelejen indonesia. Tentu masih segar di ingatan kita, bahwa dulu pernah tertangkap seorang teroris karena melanggar lalu lintas, lalu kemudian dilepas lagi setelah membayar uang “sogokan”. Bayangkan dengan mudahnya mereka berkeliaran, tidak heran kalau ternyata membasmi komplotan ini sulitnya minta ampun. Dengan sistem keamanan yang korup, masyarakat yang permisif dan sistem kependudukan yang tidak terintegrasi membuat teroris menjadi lebih leluasa lagi.

Seharusnya hal ini benar-benar memberikan pelajaran bagi semua stakeholder, mulai dari masyarakat, pemerintah sampai ke aparat keamanan. Ternyata kita terlalu lengah selama ini, sudah saatnya kita berbenah diri kalau tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Harus menjadi lebih waspada.

Reaksioner


 


6 Responses to “Haruskah kita waspada?”

  1. agn Says:

    Kalau menurut saya sih, semua orang berhak untuk menjadi liberal, fundamental, moderat, atau apalah semua istilahnya. Namun harus saling menghargai. Jadi apabila melihat sesuatu itu jangan dari kacamata sendiri dan jangan memaksakan konsep berpikir sendiri kepada orang lain, tapi kita harus punya satu tujuan bersama diantara perbedaan yang kita miliki. Oh wait, that’s Bhinneka Tunggal Ika.

  2. hamlennon Says:

    Saya sepakat mas. Tapi memang kita tidak bisa menafikan ada beberapa ideologi yang selalu “membid’ahkan” kawan yang lainnya. Bahkan tidak segan-segan menggunakan segala macam cara, sampai-sampai menggunakan kekerasan untuk menyingkarkan lawannya. Disitulah letak pelecehan terhadap pluralisme atau yang kita sebut dengan bhineka tunggal ika. Saya selalu mendambakan indonesia nantinya bisa berdialektika dengan total walaupun memang harus ada batasan-batasan tertentu yang diatur oleh negara. Sayang bangsa kita dipaksa ore baru untuk trauma.

  3. agn Says:

    Tau nggak ramuannya supaya orang nggak jadi ekstrim : pendidikan & kesejahteraan. Menurut saya sih itu.

  4. hamlennon Says:

    Bener bung, pola pendidikan kritis yang harus ditanamkan sejak dini. Kesejahteraan? bisa jadi salah satunya, membuat kader jadi militan karena mereka nothing to lose. Di dunia tersiksa, mending cepat-cepat mati biar masuk surga, harapannya sih gitu. Tapi ideologi tetap modus brain washing. Ga peduli disituasi apapun kamu, termasuk situasi ekonomi. Contohnya Osama, orang kayak tapi dia tetap radikal konservatif-kan?

  5. andrew Says:

    bener mas…
    dan kalo semua agama dan kepercayaan di indonesia sok-sok radikal konservatif fundamentalis bla…bla…apa jadinya indonesia ini…?
    bakar-bakaran kita…hehe…

  6. Amy Says:

    Saya sepakat mas. Tapi memang kita tidak bisa menafikan ada beberapa ideologi yang selalu “membid’ahkan” kawan yang lainnya. Bahkan tidak segan-segan menggunakan segala macam cara, sampai-sampai menggunakan kekerasan untuk menyingkarkan lawannya. Disitulah letak pelecehan terhadap pluralisme atau yang kita sebut dengan bhineka tunggal ika. Saya selalu mendambakan indonesia nantinya bisa berdialektika dengan total walaupun memang harus ada batasan-batasan tertentu yang diatur oleh negara. Sayang bangsa kita dipaksa ore baru untuk trauma.

Leave a Reply