Author: admin

Kalah bertaruh!

Friday, January 29th, 2010 @ 11:50 AM

Sebenarnya saya agak cemas dengan situasi perburuhan belakangan ini. Terutama setelah aksi 28 januari kemaren. Pertanyaan besarnya adalah “Mengapa serikat-serikat buruh memutuskan untuk bergabung dalam aksi 100 hari pemerintahan SBY-Boediono?”.

Jika kita sedikit mencoba untuk lebih kritis, sebenarnya aksi-aksi reaksioner belakangan ini lebih kental aroma konflik elit politik ketimbang menyuarakan hati nurani rakyat. Cobalah kita lihat manuver-manuver pansus Century. Kalau nyatanya gerakan-gerakan mahasiswa dengan warna-warni benderanya kamu anggap sebuah gerakan “murni”, mohon maaf kawan mereka juga sebenarnya terafiliasi dengan partai-partai politik.

Apa mungkin kelas buruh juga sudah mulai terbuai oleh media massa yang belakangan ini tidak kalah reaksionernya. Menyiarkan kasus Century secara simultan dan terus-menerus hampir 24 jam. Seakan-akan kita dipaksa resah untuk ini semua dan tentunya media juga yang akhirnya akan mendapatkan untung dari situasi ini. Oplah mereka naik dan masyarakat akan bejibun-jibun di depan televisi, menjadi bergain yang cukup untuk memikat kaum advertising.

Bukankah buruh masih berbicara tentang pertentangan kelas? Bukankah satu-satunya jalan agar kita (buruh) terlepas dari penindasan adalah revolusi, pembagian alat produksi sama rata. Tapi cobalah kita pikir, kasus ini mau dibawa kemana? Bisakah isu ini didorong untuk revolusi?

Gerakan 28 Jan jelas-jelas berupaya untuk mendelegitimasi kepimpinan Rezim SBY-Boediono. Turunkan SBY, adalah salah satu tuntutan mereka. Lalu kalau SBY turun, siapa yang menggantikan? ooh jelas, mereka-mereka para elit politik yang akan menikmati keuntungan yang paling besar. Dapat posisi baru yang lebih strategis. Lalu buruh dapat apa? Mahasiswa dapat apa? Buruh balik ke pabrik, kerja lagi, diperas lagi. Mahasiswa balik ke kampus, belajar lagi, trus cepat lulus, cari kerja lantas jadi buruh. Selamat datang di dunia perburuhan. Dan mereka para elit politik akan terus melakukan deal-deal ekonomi yang membolehkan para pemodal untuk mengeruk kekayaan bumi indonesia beserta budak-budak pribumi berupah murah sekaligus.

Ayolah kawan, apakah kalian buta sejarah. Masih ingat 66, 74 dan 98. Bukankah Mei 98 adalah pelajaran, REFORMASI telah GAGAL. Hanya menurunkan rezim Soeharto, itu saja titik. Lalu kalian mau mengadakan reformasi lagi kali ini. Kapaaan kita bisa revolusi bung? reformasi itu BASI!

Hei kaum buruh, kalian mau mencuri momentum ini? Aji mumpung. Mumpung media menyoroti maksimal jadi teriakan kalian tersampaikan. Hapus Outsorcing, Naikan Gajih buruh, Ganyang rezim imprealis, kapitalis birokrat musuh rakyat dan tolak ACFTA. Kalian pikir mereka dengar, hahahaha. Lihat hari ini hasilnya. Coba baca koran hari ini, ada yang mengangkat teriakan buruh? Kalaupun TV menyiarkan kemaren, kalian pikir mereka tertarik. Yang masyarakat tau demo ini cuma untuk menarget SBY-Boediono. Dan apa yang kalian dapat? lelah, letih dan dongkol!

Kalian pikir ini ajang pertaruhan? Menggelar massa secara maksimal dan berharap suara buruh didengar jutaan orang indonesia. Taruhannya terlalu besar kawan. mendatangkan buruh sekian ribu orang bukanlah hal yang mudah, saya salut dengan ini, mereka bertaruh dengan desakan pemilik pabrik yang mengancam apabila buruh tidak kerja maka kalian akan saya pecat. Tapi apa hasil pertaruhan ini, boro-boro aspirasi buruh didengar. Kalian malah hanya memperkuat jumlah massa aksi tanpa ada keuntungan yang benar-benar kongkrit. Kalian kalah besar dalam pertaruhan ini.

Ah sudahlah, nanti saya malah ikut dongkol. Intinya saya mengajak kawan-kawan buruh untuk tetap fokus pada agenda-agenda revolusioner, bukan malah ikut-ikutan agenda reaksioner. Isu ini tidak akan pernah bisa menguntungkan kaum buruh kecuali kalian emang kepengen Show of Force, alias tukang pamer tapi kopong!

Harusnya “buruh bersatu, tak dapat dikalahkan”

bukan “buruh bertaruh, tak dapat diharapkan”.

*picture from iwandahnial.wordpress.com

Reaksioner


 


8 Responses to “Kalah bertaruh!”

  1. irwan bajang Says:

    makanya…harusnya ada pengkajian lebih mendalam lagi tentu saja oleh aktivis buruh, organisasi dan masyarakat secara umum. Sepertinya televisi memang sudah sangat menjadi darah dalam nadi manusi2 Indonesia..semua ditelan mentah2, dan akhirnya, media meraup untung, elite bermain isyu, buruh masih miskin dan sengsara, sampai akhir menutup mata…

  2. renggo darsono Says:

    buruh mengeluh, pemodal melenguh.
    buruh kuat pengusaha(yang notabene banyak juga yang jadi politisi) pada jadi keparat dengan memecah belah itu persatuan,

  3. kodhok Says:

    welehweleh tulisan ini bagus bener..boleh saya kutip kan mas ilham…

  4. bung hakim Says:

    siiip, inspiratif. klo situasi buruh di daerah (ex:banjar, dll) msh blom merata shg terkesan sentralistik dan patron client. ditambah sentimen SARA (buruh di kalimantan khan byk org jawa) wes, rodo mumet selain rentan perpecahan juga gampang di konflik horizontal kan, tapi itulah bagian dari realitas buruh, yang sampai sekarang kita teguhkan menjalani jalan ini.
    cita-cita dan harapan terciptanya buruh yg terdidik adalah dgn masuk dan (baca:tetap setia di garis massa) keberpihakan para intelektual thd masalah perburuhan.
    piye bung?

  5. Puyya Says:

    ada hal yg kadang mengganggu saat mahasiswa masuk mengorganisir buruh, seolah ada keterpisahan status.mungkin juga karena pengorganisirannya lebih pada konteks penguatan politik organisasi dan hanya pada hak2 buruh yg lebih pada “memprovoke” mereka dan menjadi frontal di hadapan sistem perusahaan(sistem maksud saya perusahaan tdk lg berdiri sendiri hari ini, aliansi sesama perusahaan, lalu keberpihakan pemerintah adl bagian dr sist sbuah prsahaan).
    saya tidak terlalu sepakat seringkali kawa2 bicara t2g bunuh diri kelas.
    saya malah lebih sepakat kalau dg modal keakademikannya sesuai kapasitas masing2 kawan2 mahasiswa mendesign pola2 baru untuk Share pendidikan dg kawan2 buruh. lebih pada penguatan kedaulatan ekonomi kolektifnya, misal Serikat Buruh ( bukan Serikat Pekerja, ini lebih rapat dgn struktur perusahaan)disorong bersama2 untuk bangun koperasi yg pengelolaannya profesional(kiri).hahahahhaa
    seringnya buruh di dorong untuk perayaan mayday aja toh?

    btw, ada pernah bergulir isu yg bisa diblow up lagi bahwa terminologi digunakan untuk mempersatukan antara buruh pabrik dg pekerja non sektoral. dulu pernah ada yg namanya terminologi Rakyat pekerja = seluruh orang2 yg tidak memiliki alat produksi…. jd mahasiswa aja bisa masuk ke dalamnya.

    yg jadi persoalan juga kadang konsistensi. bisa jadi banyak orang yg gentar dengan kerlingan mata kekuasaan. lalu lengah dan bermanja2 pula.ditanggapi lebih dr seharusnya, itu mestinya dianggap godaan iseng yg tidak penting.
    tapi kadang juga selalu dibilang bahwa dialektika seseorang akan menetukan arah kemana dia menuju. misal, orang yg lahir dr rahim konsolidasi momen politik, maka dia akan potensi juga menuju ke arah yg sama.
    hari ini yg paling penting disiapkan lapis sistem utk menampung energi buruh untuk berlawan itu dg ekonomi sosial yg matang.kupikir, mahasiswa terdidik akan mampu menurunkan konsep dan gagasan besar tentang mimpi rakyat berdaulat secara politik dan ekonomi serta bermartabat secara budaya itu ke dalam ranah2 pengorganisirannya.

    @hakim: semoga selamalamalamalamalamanya TETAP SETIA DI GARIS MASSA ya.salam kenal.

  6. hamlennon Says:

    @Bajang: Yoi bung, makanya kita harus memperkuat kerja agitasi dan propaganda kita melalui media alternatif. Lawan bung!

    @Renggo: komenpun masih ber-rima satu, hehehe. Oke Bung Renggo, ojo lali update blog ke dewe.

    @Kodhok: Yo biasa wae bung, kutip yo monggo, ojo lali copyright bung. Hahahaha

    @Mbah Hakim: Wah keliatannya berat Mbah, berarti sama aja ya, disini juga buruh terpecah oleh politik aliran. Kapan2 kita ngobrol2 mbah masalah buruh di borneo. Oke?

    @Puyya : Waduh mbak, komennya panjang banget. Hehehehe. Saya jadi bingung balesnya.

    Rakyat Pekerja = Rakyat Terdidik + Intelektual yg Bekerja.
    Jadi ya mahasiswa sudah otomatis include ke dalam Rakyat Pekerja. Nah masalah “penguatan kedaulatan ekonomi kolektif buruh” itu yang menarik. Saya rasa juga demikian. Aktivis Buruh dewasa ini juga harus menjawab tantangan secara Real berkaitan masalah pemenuhan kebutuhan hidup kaum buruh. Menurut pengamatan saya, beberapa kawan di Yogya juga sudah melaksanakan program2 seperti itu. Seperti Koperasi buruh yang terintegrasi, semoga program seperti ini tetap konsisten. Karena Mandiri secara ekonomi = Mandiri secara Politik. Insyaallah!

  7. Orang Awam Says:

    Boleh ikut ngomentar dikit bang ? tapi malu ni , aku orang awam .. hohoho

    cuma mau mengutip dalil produksi ” semakin kecil biaya produksi, semakin besar keuntungan ” .. Semakin bodoh buruh tersebut semakin murah juga harganya .. saya melihat dari sisi industri ya bang, industri kan ada home industri, manufacture, Hi-tech indusstri ya … sedangkan di indonesia untuk hi-tech industri sedikit banget ya kan ? berarti mayoritas banyak di home industri dan manufacture . dan untuk kecerdasan pada bidang home industri dan manufacture tidak terlalu tinggi .. brarti biayanya kan murah bang .. lagian kalo upah buruh home dan manufacture meningkat otomatis harga produksi meningkat dan harga di pasar tinggi . nah kalo harga di pasar tinggi , kasian juga mereka belanja apa-apa mahal .. huehue ..
    Jadi apa yang kita bisa jual bang ? buruh yang tertdidik, apa sudah banyak buruh terdidik di negara kita ? aku gk tau jawabannya . berarti permasalahannya dari yang terdidik, kembali lagi deh kita sama yang namanya pendidikan .. jadi saya lebih sepakat, negara ini harus buat banyak orang yang terdidik dan cerdas .. maaf ya bang kalo dalam komentar saya gk nyambung, tapi sebenernya kita harus lihat dari beberapa sisi. bukan hanya dari satu sisi .. makasih bang . salam kenal ” orang awam “

  8. hamlennon Says:

    Jadi begini Mas Orang Awan…
    Saya pikir tidak manusiawi kalau kita memberi upah buruh yang tidak standar KHL (Kebutuhan Hidup Layak) yang diasumsikan sebagai UMR/UMK/UMP. Buruh tidak dapat mengkonsumsi kebutuhan pokoknya apabila dia dibayar tidak sesuai dengan UMP, itu baru untuk kebutuhan pokok. Bagaimana dengan rekreasi, pendidikan dan kesehatan. Praktek di negara kita bahkan banyak perusahaan yg tidak memfasilitasi pegawainya dengan Upah yg sesuai KHL. Walaupun upah tersebut masih bisa dinegoisasikan dengan buruh, melalui transparansi pendapatan perusahaan. Jadi jikalau kapasitas korporasi tidak sebesar yg diasumsikan masih bisa dimaklumi.

    Iya benar yang kita artikan Buruh terdidik bisa juga secara kacamata akademis, tapi disini dititik beratkan pada daya kritis dan demokratis buruh itu sendiri. Terdidik apabila dia paham betul akan hak-haknya dan dapat meorganisir diri dengan masif jika hak2 tersebut dirampas oleh korporasi. Pendidikan? jelas kita sepakat akan hal ini, tapi pendidikan yang menciptakan insan-insan progresif yang kita inginkan. Sayangnya hal ini sulit didapat dari pendidikana ala SISDIKNAS dewasa ini.

    Salam kenal juga mas…

Leave a Reply