Comments on: Kalah bertaruh! http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/ Dear Sir, Madam, would you read my blog? Fri, 10 May 2013 14:48:22 +0000 hourly 1 http://wordpress.org/?v=3.0.4 By: hamlennon http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/comment-page-1/#comment-376 hamlennon Wed, 20 Jul 2011 10:38:41 +0000 http://ilhampandu.com/?p=111#comment-376 Jadi begini Mas Orang Awan... Saya pikir tidak manusiawi kalau kita memberi upah buruh yang tidak standar KHL (Kebutuhan Hidup Layak) yang diasumsikan sebagai UMR/UMK/UMP. Buruh tidak dapat mengkonsumsi kebutuhan pokoknya apabila dia dibayar tidak sesuai dengan UMP, itu baru untuk kebutuhan pokok. Bagaimana dengan rekreasi, pendidikan dan kesehatan. Praktek di negara kita bahkan banyak perusahaan yg tidak memfasilitasi pegawainya dengan Upah yg sesuai KHL. Walaupun upah tersebut masih bisa dinegoisasikan dengan buruh, melalui transparansi pendapatan perusahaan. Jadi jikalau kapasitas korporasi tidak sebesar yg diasumsikan masih bisa dimaklumi. Iya benar yang kita artikan Buruh terdidik bisa juga secara kacamata akademis, tapi disini dititik beratkan pada daya kritis dan demokratis buruh itu sendiri. Terdidik apabila dia paham betul akan hak-haknya dan dapat meorganisir diri dengan masif jika hak2 tersebut dirampas oleh korporasi. Pendidikan? jelas kita sepakat akan hal ini, tapi pendidikan yang menciptakan insan-insan progresif yang kita inginkan. Sayangnya hal ini sulit didapat dari pendidikana ala SISDIKNAS dewasa ini. Salam kenal juga mas... Jadi begini Mas Orang Awan…
Saya pikir tidak manusiawi kalau kita memberi upah buruh yang tidak standar KHL (Kebutuhan Hidup Layak) yang diasumsikan sebagai UMR/UMK/UMP. Buruh tidak dapat mengkonsumsi kebutuhan pokoknya apabila dia dibayar tidak sesuai dengan UMP, itu baru untuk kebutuhan pokok. Bagaimana dengan rekreasi, pendidikan dan kesehatan. Praktek di negara kita bahkan banyak perusahaan yg tidak memfasilitasi pegawainya dengan Upah yg sesuai KHL. Walaupun upah tersebut masih bisa dinegoisasikan dengan buruh, melalui transparansi pendapatan perusahaan. Jadi jikalau kapasitas korporasi tidak sebesar yg diasumsikan masih bisa dimaklumi.

Iya benar yang kita artikan Buruh terdidik bisa juga secara kacamata akademis, tapi disini dititik beratkan pada daya kritis dan demokratis buruh itu sendiri. Terdidik apabila dia paham betul akan hak-haknya dan dapat meorganisir diri dengan masif jika hak2 tersebut dirampas oleh korporasi. Pendidikan? jelas kita sepakat akan hal ini, tapi pendidikan yang menciptakan insan-insan progresif yang kita inginkan. Sayangnya hal ini sulit didapat dari pendidikana ala SISDIKNAS dewasa ini.

Salam kenal juga mas…

]]>
By: Orang Awam http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/comment-page-1/#comment-303 Orang Awam Sun, 24 Apr 2011 00:30:21 +0000 http://ilhampandu.com/?p=111#comment-303 Boleh ikut ngomentar dikit bang ? tapi malu ni , aku orang awam .. hohoho cuma mau mengutip dalil produksi " semakin kecil biaya produksi, semakin besar keuntungan " .. Semakin bodoh buruh tersebut semakin murah juga harganya .. saya melihat dari sisi industri ya bang, industri kan ada home industri, manufacture, Hi-tech indusstri ya ... sedangkan di indonesia untuk hi-tech industri sedikit banget ya kan ? berarti mayoritas banyak di home industri dan manufacture . dan untuk kecerdasan pada bidang home industri dan manufacture tidak terlalu tinggi .. brarti biayanya kan murah bang .. lagian kalo upah buruh home dan manufacture meningkat otomatis harga produksi meningkat dan harga di pasar tinggi . nah kalo harga di pasar tinggi , kasian juga mereka belanja apa-apa mahal .. huehue .. Jadi apa yang kita bisa jual bang ? buruh yang tertdidik, apa sudah banyak buruh terdidik di negara kita ? aku gk tau jawabannya . berarti permasalahannya dari yang terdidik, kembali lagi deh kita sama yang namanya pendidikan .. jadi saya lebih sepakat, negara ini harus buat banyak orang yang terdidik dan cerdas .. maaf ya bang kalo dalam komentar saya gk nyambung, tapi sebenernya kita harus lihat dari beberapa sisi. bukan hanya dari satu sisi .. makasih bang . salam kenal " orang awam " Boleh ikut ngomentar dikit bang ? tapi malu ni , aku orang awam .. hohoho

cuma mau mengutip dalil produksi ” semakin kecil biaya produksi, semakin besar keuntungan ” .. Semakin bodoh buruh tersebut semakin murah juga harganya .. saya melihat dari sisi industri ya bang, industri kan ada home industri, manufacture, Hi-tech indusstri ya … sedangkan di indonesia untuk hi-tech industri sedikit banget ya kan ? berarti mayoritas banyak di home industri dan manufacture . dan untuk kecerdasan pada bidang home industri dan manufacture tidak terlalu tinggi .. brarti biayanya kan murah bang .. lagian kalo upah buruh home dan manufacture meningkat otomatis harga produksi meningkat dan harga di pasar tinggi . nah kalo harga di pasar tinggi , kasian juga mereka belanja apa-apa mahal .. huehue ..
Jadi apa yang kita bisa jual bang ? buruh yang tertdidik, apa sudah banyak buruh terdidik di negara kita ? aku gk tau jawabannya . berarti permasalahannya dari yang terdidik, kembali lagi deh kita sama yang namanya pendidikan .. jadi saya lebih sepakat, negara ini harus buat banyak orang yang terdidik dan cerdas .. maaf ya bang kalo dalam komentar saya gk nyambung, tapi sebenernya kita harus lihat dari beberapa sisi. bukan hanya dari satu sisi .. makasih bang . salam kenal ” orang awam “

]]>
By: hamlennon http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/comment-page-1/#comment-215 hamlennon Tue, 08 Jun 2010 19:36:29 +0000 http://ilhampandu.com/?p=111#comment-215 @Bajang: Yoi bung, makanya kita harus memperkuat kerja agitasi dan propaganda kita melalui media alternatif. Lawan bung! @Renggo: komenpun masih ber-rima satu, hehehe. Oke Bung Renggo, ojo lali update blog ke dewe. @Kodhok: Yo biasa wae bung, kutip yo monggo, ojo lali copyright bung. Hahahaha @Mbah Hakim: Wah keliatannya berat Mbah, berarti sama aja ya, disini juga buruh terpecah oleh politik aliran. Kapan2 kita ngobrol2 mbah masalah buruh di borneo. Oke? @Puyya : Waduh mbak, komennya panjang banget. Hehehehe. Saya jadi bingung balesnya. Rakyat Pekerja = Rakyat Terdidik + Intelektual yg Bekerja. Jadi ya mahasiswa sudah otomatis include ke dalam Rakyat Pekerja. Nah masalah "penguatan kedaulatan ekonomi kolektif buruh" itu yang menarik. Saya rasa juga demikian. Aktivis Buruh dewasa ini juga harus menjawab tantangan secara Real berkaitan masalah pemenuhan kebutuhan hidup kaum buruh. Menurut pengamatan saya, beberapa kawan di Yogya juga sudah melaksanakan program2 seperti itu. Seperti Koperasi buruh yang terintegrasi, semoga program seperti ini tetap konsisten. Karena Mandiri secara ekonomi = Mandiri secara Politik. Insyaallah! @Bajang: Yoi bung, makanya kita harus memperkuat kerja agitasi dan propaganda kita melalui media alternatif. Lawan bung!

@Renggo: komenpun masih ber-rima satu, hehehe. Oke Bung Renggo, ojo lali update blog ke dewe.

@Kodhok: Yo biasa wae bung, kutip yo monggo, ojo lali copyright bung. Hahahaha

@Mbah Hakim: Wah keliatannya berat Mbah, berarti sama aja ya, disini juga buruh terpecah oleh politik aliran. Kapan2 kita ngobrol2 mbah masalah buruh di borneo. Oke?

@Puyya : Waduh mbak, komennya panjang banget. Hehehehe. Saya jadi bingung balesnya.

Rakyat Pekerja = Rakyat Terdidik + Intelektual yg Bekerja.
Jadi ya mahasiswa sudah otomatis include ke dalam Rakyat Pekerja. Nah masalah “penguatan kedaulatan ekonomi kolektif buruh” itu yang menarik. Saya rasa juga demikian. Aktivis Buruh dewasa ini juga harus menjawab tantangan secara Real berkaitan masalah pemenuhan kebutuhan hidup kaum buruh. Menurut pengamatan saya, beberapa kawan di Yogya juga sudah melaksanakan program2 seperti itu. Seperti Koperasi buruh yang terintegrasi, semoga program seperti ini tetap konsisten. Karena Mandiri secara ekonomi = Mandiri secara Politik. Insyaallah!

]]>
By: Puyya http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/comment-page-1/#comment-212 Puyya Sun, 06 Jun 2010 22:51:07 +0000 http://ilhampandu.com/?p=111#comment-212 ada hal yg kadang mengganggu saat mahasiswa masuk mengorganisir buruh, seolah ada keterpisahan status.mungkin juga karena pengorganisirannya lebih pada konteks penguatan politik organisasi dan hanya pada hak2 buruh yg lebih pada "memprovoke" mereka dan menjadi frontal di hadapan sistem perusahaan(sistem maksud saya perusahaan tdk lg berdiri sendiri hari ini, aliansi sesama perusahaan, lalu keberpihakan pemerintah adl bagian dr sist sbuah prsahaan). saya tidak terlalu sepakat seringkali kawa2 bicara t2g bunuh diri kelas. saya malah lebih sepakat kalau dg modal keakademikannya sesuai kapasitas masing2 kawan2 mahasiswa mendesign pola2 baru untuk Share pendidikan dg kawan2 buruh. lebih pada penguatan kedaulatan ekonomi kolektifnya, misal Serikat Buruh ( bukan Serikat Pekerja, ini lebih rapat dgn struktur perusahaan)disorong bersama2 untuk bangun koperasi yg pengelolaannya profesional(kiri).hahahahhaa seringnya buruh di dorong untuk perayaan mayday aja toh? btw, ada pernah bergulir isu yg bisa diblow up lagi bahwa terminologi digunakan untuk mempersatukan antara buruh pabrik dg pekerja non sektoral. dulu pernah ada yg namanya terminologi Rakyat pekerja = seluruh orang2 yg tidak memiliki alat produksi.... jd mahasiswa aja bisa masuk ke dalamnya. yg jadi persoalan juga kadang konsistensi. bisa jadi banyak orang yg gentar dengan kerlingan mata kekuasaan. lalu lengah dan bermanja2 pula.ditanggapi lebih dr seharusnya, itu mestinya dianggap godaan iseng yg tidak penting. tapi kadang juga selalu dibilang bahwa dialektika seseorang akan menetukan arah kemana dia menuju. misal, orang yg lahir dr rahim konsolidasi momen politik, maka dia akan potensi juga menuju ke arah yg sama. hari ini yg paling penting disiapkan lapis sistem utk menampung energi buruh untuk berlawan itu dg ekonomi sosial yg matang.kupikir, mahasiswa terdidik akan mampu menurunkan konsep dan gagasan besar tentang mimpi rakyat berdaulat secara politik dan ekonomi serta bermartabat secara budaya itu ke dalam ranah2 pengorganisirannya. @hakim: semoga selamalamalamalamalamanya TETAP SETIA DI GARIS MASSA ya.salam kenal. ada hal yg kadang mengganggu saat mahasiswa masuk mengorganisir buruh, seolah ada keterpisahan status.mungkin juga karena pengorganisirannya lebih pada konteks penguatan politik organisasi dan hanya pada hak2 buruh yg lebih pada “memprovoke” mereka dan menjadi frontal di hadapan sistem perusahaan(sistem maksud saya perusahaan tdk lg berdiri sendiri hari ini, aliansi sesama perusahaan, lalu keberpihakan pemerintah adl bagian dr sist sbuah prsahaan).
saya tidak terlalu sepakat seringkali kawa2 bicara t2g bunuh diri kelas.
saya malah lebih sepakat kalau dg modal keakademikannya sesuai kapasitas masing2 kawan2 mahasiswa mendesign pola2 baru untuk Share pendidikan dg kawan2 buruh. lebih pada penguatan kedaulatan ekonomi kolektifnya, misal Serikat Buruh ( bukan Serikat Pekerja, ini lebih rapat dgn struktur perusahaan)disorong bersama2 untuk bangun koperasi yg pengelolaannya profesional(kiri).hahahahhaa
seringnya buruh di dorong untuk perayaan mayday aja toh?

btw, ada pernah bergulir isu yg bisa diblow up lagi bahwa terminologi digunakan untuk mempersatukan antara buruh pabrik dg pekerja non sektoral. dulu pernah ada yg namanya terminologi Rakyat pekerja = seluruh orang2 yg tidak memiliki alat produksi…. jd mahasiswa aja bisa masuk ke dalamnya.

yg jadi persoalan juga kadang konsistensi. bisa jadi banyak orang yg gentar dengan kerlingan mata kekuasaan. lalu lengah dan bermanja2 pula.ditanggapi lebih dr seharusnya, itu mestinya dianggap godaan iseng yg tidak penting.
tapi kadang juga selalu dibilang bahwa dialektika seseorang akan menetukan arah kemana dia menuju. misal, orang yg lahir dr rahim konsolidasi momen politik, maka dia akan potensi juga menuju ke arah yg sama.
hari ini yg paling penting disiapkan lapis sistem utk menampung energi buruh untuk berlawan itu dg ekonomi sosial yg matang.kupikir, mahasiswa terdidik akan mampu menurunkan konsep dan gagasan besar tentang mimpi rakyat berdaulat secara politik dan ekonomi serta bermartabat secara budaya itu ke dalam ranah2 pengorganisirannya.

@hakim: semoga selamalamalamalamalamanya TETAP SETIA DI GARIS MASSA ya.salam kenal.

]]>
By: bung hakim http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/comment-page-1/#comment-189 bung hakim Sat, 17 Apr 2010 02:23:05 +0000 http://ilhampandu.com/?p=111#comment-189 siiip, inspiratif. klo situasi buruh di daerah (ex:banjar, dll) msh blom merata shg terkesan sentralistik dan patron client. ditambah sentimen SARA (buruh di kalimantan khan byk org jawa) wes, rodo mumet selain rentan perpecahan juga gampang di konflik horizontal kan, tapi itulah bagian dari realitas buruh, yang sampai sekarang kita teguhkan menjalani jalan ini. cita-cita dan harapan terciptanya buruh yg terdidik adalah dgn masuk dan (baca:tetap setia di garis massa) keberpihakan para intelektual thd masalah perburuhan. piye bung? siiip, inspiratif. klo situasi buruh di daerah (ex:banjar, dll) msh blom merata shg terkesan sentralistik dan patron client. ditambah sentimen SARA (buruh di kalimantan khan byk org jawa) wes, rodo mumet selain rentan perpecahan juga gampang di konflik horizontal kan, tapi itulah bagian dari realitas buruh, yang sampai sekarang kita teguhkan menjalani jalan ini.
cita-cita dan harapan terciptanya buruh yg terdidik adalah dgn masuk dan (baca:tetap setia di garis massa) keberpihakan para intelektual thd masalah perburuhan.
piye bung?

]]>
By: kodhok http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/comment-page-1/#comment-184 kodhok Mon, 22 Feb 2010 15:53:23 +0000 http://ilhampandu.com/?p=111#comment-184 welehweleh tulisan ini bagus bener..boleh saya kutip kan mas ilham... welehweleh tulisan ini bagus bener..boleh saya kutip kan mas ilham…

]]>
By: renggo darsono http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/comment-page-1/#comment-175 renggo darsono Sun, 07 Feb 2010 13:29:07 +0000 http://ilhampandu.com/?p=111#comment-175 buruh mengeluh, pemodal melenguh. buruh kuat pengusaha(yang notabene banyak juga yang jadi politisi) pada jadi keparat dengan memecah belah itu persatuan, buruh mengeluh, pemodal melenguh.
buruh kuat pengusaha(yang notabene banyak juga yang jadi politisi) pada jadi keparat dengan memecah belah itu persatuan,

]]>
By: irwan bajang http://ilhampandu.com/kalah-bertaruh/comment-page-1/#comment-172 irwan bajang Fri, 29 Jan 2010 15:23:41 +0000 http://ilhampandu.com/?p=111#comment-172 makanya...harusnya ada pengkajian lebih mendalam lagi tentu saja oleh aktivis buruh, organisasi dan masyarakat secara umum. Sepertinya televisi memang sudah sangat menjadi darah dalam nadi manusi2 Indonesia..semua ditelan mentah2, dan akhirnya, media meraup untung, elite bermain isyu, buruh masih miskin dan sengsara, sampai akhir menutup mata... makanya…harusnya ada pengkajian lebih mendalam lagi tentu saja oleh aktivis buruh, organisasi dan masyarakat secara umum. Sepertinya televisi memang sudah sangat menjadi darah dalam nadi manusi2 Indonesia..semua ditelan mentah2, dan akhirnya, media meraup untung, elite bermain isyu, buruh masih miskin dan sengsara, sampai akhir menutup mata…

]]>