Author: hamlennon

Ruma Maida

Monday, November 2nd, 2009 @ 6:08 PM

Kongres Supah Pemuda dalam film “Ruma Maida”Ternyata saya memang terlalu banyak berharap dari film ini, sehingga timbul rasa kekecewaan terhadapnya. Saya kira film ini lebih baik dari film “Gie”, ternyata saya salah. Kalaupun anda masih berharap ada fakta-fakta sejarah di balik cerita ini, andapun akan kecewa karena apa yang mereka sebut sejarah ternyata hanya sebuah alur fiksi bertemakan kemerdekaan dan Reformasi 98.

Tapi harus diakui benar bahwa film ini mencoba mengangkat kembali beberapa nilai-nilai yang mulai luntur di masyarakat kita, yaitu kepedulian akan sejarah dan pentingnya pendidikan sebagai pembentuk karakter bangsa. Hanya saja cara perangkaiannya yang kurang smood. Seakan-akan beberapa event terjadi tanpa ditunjang dengan setting kondisi yang cukup detail dan karakter tokoh yang mumpuni. Untuk setting tempat sepertinya bisa saya maklumilah untuk film sekaliber indonesia.

Poster Film “Ruma Maida”

Sang tokoh utama, Maida Manurung (Atiqah Hasiholan), merupakan seorang wanita muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Maida membuka sebuah sekolah informal khusus untuk anak-anak jalanan. Hanya saja sepertinya Maidapun terkesan cuek dengan perubahan sosial yang terjadi pada masa itu yaitu “Reformasi 98″. sepertinya setting reformasi 98 hanya untuk mengangkat alur sejarah yang terjadi di Indonesia tanpa mencoba untuk menyambungkan spirit pemuda pada masa itu. Masak si Maida tidak pernah membicarakan tentang orde baru, adapun paling hanya moment kegirangan Maida saat Soeharto lengser tanpa ada pembicaraan seputar Reformasi, aneh dan terkesan cuma Euforia.

Ishak Pahing - salah satu tokoh dalam film “Ruma Maida”. Sang komposer lagu Pulau “Pulau Tenggara”Seandainya saja dalam film ini sang penulis naskah (Ayu Utami) memasukan beberapa diskursus-diskursus seputar kemerdekaan dan reformasi, tentunya ini akan menjadi nilai tambah film ini. Para pemuda dapat digambarkan benar-benar hidup dengan semangat akan perubahan nasib rakyatnya. Padahal ada satu masalah lagi di film ini yang coba diangkat, tetapi tidak terlalu dibahas lebih dalam. Yaitu perdebatan antara Soekarno dengan Bung Hatta, dimana Bung Karno lebih memilih menggapai kemerdekaan terlebih dahulu baru setelah itu membangun pendidikan. Sedangkan Bung Hatta berpendapat sebaiknya sedari sekarang kita (pada saat itu) membangun sebuah sistem pendidikan yang benar-benar ideologis baru setelah itu kita bisa menentukan kemerdekaan kita. Kalau mencoba disambungkan dengan aktivitas Maida yang lebih fokus ke masalah pendidikan, tentu saja ada benang merahnya. Bisa disambungkan dengan pilihan Maida dalam membangun sebuah sekolah alternatif sebagai ruang ideologisasi. Cerita malah jadi lebih seru kan! Bukan hanya romantisme kita dengan sejarahnya saja yang diangkat.

Game Ruma MaidaYang saya suka dari film ini adalah mereka membuat sebuah game sebagai media promosinya. Dapat anda liat disini. Soundtrack yang mengisi film ini juga terbilang bagus, sebut saja band NAIF yang mengaransement ulang lagu “Juwita Malam”, “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”, dan “Ibu Pertiwi”.

Tentu harapan saya film ini dapat menjadi stimulus bagi industri film di indonesia yang ingin mengangkat kembali beberapa event sejarah di Indonesia. Di tengah kejenuhan saya menonton film nasional yang dipenuhi KISS (KIsah Seputar Selangkangan) tentunya film ini dapat menjadi hiburan yang lebih bermutu.

thriller Film “Ruma Maida”:

Sebagai penutup, tulisan ini hanya merupakan sebuah opini seorang pemuda yang berharap agar kenangan kita terhadap sejarah dapat disinenamakan dengan lebih baik lagi. Maju terus film indonesia!

Book and Film


 


3 Responses to “Ruma Maida”

  1. adam Says:

    wah kritikus film nie cocok loe bos
    kangen apa plesetan singkat2an loe nggak nyangka setelah sekian lama kamus loe tambah KISS XD

  2. Irwan Bajang Says:

    wah, ulasan yang menarik…
    saya malah belum nonton, pemainnya cantik2 ya..hehehe
    hm, barangkalia Ayu Utami sibuk menelaah kajian feminisnya, makanya kurang faham sejarah dan agak kesusahan menyelipkan lebih detail dalam film ini, baguslah, nanti saya tonton, dari pada si Jago Merah, yang kacau itu, ini lebih baik kan?
    :D
    Pinjem bro, filmnya

  3. Arieph Satyagraha Says:

    bung…kunjungi web baruku bung…
    Tuker2 link laah..

Leave a Reply