Author: admin

Spontan

Saturday, July 9th, 2011 @ 10:52 AM

NotebookPosting kemarin adalah postingan pertama saya setelah lama tidak ngeblog. Ya, sekitar setahun lebih. Sulit sekali mendapatkan mood untuk menulis di blog belakangan ini. Ada beberapa halangan yang membuat saya merasa enggan untuk menulis. Kesibukan bisa menjadi apollogy, tapi sebenarnya bukan itu masalah utamanya. Sebab saya masih menulis di buku diary saya. Old Fashion memang, tapi saya merasa hal itu lebih nyaman karena terkadang hal ya saya tulis terlampau pribadi untuk dipublikasikan.

Dan bagaimana dengan hal yang diluar masalah pribadi, seperti resensi buku dan film? Atau kondisi realitas masyarakat terkini, ekonomi politik? Kenapa masih juga tak bisa diabadikan dalam bentuk tulisan?

Baiklah, begini ceritanya. Semakin banyak hal yang kita tau, kita merasa semakin bodoh. Begitu juga dengan realitas masyarakat kontemporer. Rasa itu lah yang membuat saya tidak yakin saat akan mempublikasikan suatu tulisan. Bisa saja hasil pembacaan saya salah karena terlalu dangkal dalam memandang suatu masalah. Mungkin saya menganggap hal ini terlalu serius, seakan-akan blog ini adalah produk jurnalisme mapan dengan tulisan yang “pancen oye“. Padahal Blog adalah saya, cerminan yang benar-benar menggambarkan diri saya apa adanya. Terima saja kritikan orang, toh sintesis tidak akan pernah ada kalau tesis tidak berbenturan dengan antitesis.

Hal lain adalah perubahan saya dalam pola mengakses informasi dan pengetahuan. Dulu saya mengakses itu semua melalui googling dan blogwalking. Tanpa ada termin yang jelas, lebih bebas kemana saja. Hasrat ngeblogpun terjadi secara spontan, dan terjadi dalam sekejap karena tangan kita masih berada di atas papan keyboard. Sekarang, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku. Buku terminnya sangat jelas, hanya satu persoalan saja yang dibahas. Permasalahannya adalah informasi yang kita dapatkan terlampau banyak untuk satu termin bahasan. Over informasi itulah yang kontra produktif dengan menulis, karena terkadang saya belum bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan “harus mulai dari mana?”. Belum selesai pertanyaan itu dijawab kita sudah terjebak dalam buku yang lain. Dan akhirnya, dilupakan begitu saja. Juga masalah platform yang berbeda, keyboard terlalu jauh dari buku, jauuuh sekali…

Perkembangan teknologi informasi yang pesat juga mendukung situasi “idle” ini. Microblogging mereduksi blog dari tulisan menjadi clekopan (bahasa jawa, saya belum menemukan padanan katanya dalam bahasa indonesia). Belum lagi sensasinya yang sama persis dengan blog konvensional yaitu interaksi dengan orang lain dalam bentuk komentar atas clekopan kita. Hal ini kontan mengguncang blogsphere, para bloger rontok satu persatu. Mereka pindah beramai-ramai ke Twitterland dan Facebookers. Blogsphere tak seramai dulu.

Tapi saya percaya akan masa depan Blog, akhirnya hanya yang berkualitas dan produktif yang dapat bertahan. Menyebabkan para Blogger berada di “kelas” yang istimewa. Dengan konsep citizen journalism, blog adalah penyambung lidah rakyat di era revolusi informasi.

Sayapun masih mencari taktik yang efektif agar tetap spontan dalam menulis blog. Dengan googling ataupun dengan buku, tetap saja ide harus diabadikan. Spontan saja, biarkan dialektika terjadi…

I Me Mine, I Me Mine


 


6 Responses to “Spontan”

  1. DV Says:

    Welcome back!
    Dunia blog butuh blogger lebih banyak lagi dan Anda, masuk kembali ke lingkaran ini :)

    Pantas sekian lama menghilang hahehehe ayoh ramaikan lagi!

  2. hamlennon Says:

    @DV: Saling memberikan semangat dan apresiasi, begitulah kita akan bertahan. Makasih banyak bung DV atas Supportnya!!! :D

  3. Baju Tanah Abang Says:

    salam kenal…

  4. dobleh yang malang Says:

    selamat datang lagi mas
    tetap semangattttt
    salam hangat dari blue

  5. Pokal Says:

    ngeblog meneh gan?

  6. Irwan Bajang Says:

    sebenernya kalau baca buku, ditandai aja dan dibuat review, kalo toh ingin tetap menulis dan menunjukkan isi pikiran. dulu saya tidak suka mencoret dan menandai buku, karena itu merusak pemandangan buku. sekarang, mencoret, menandai dengan stabilo, melipat dan lain sebagainya harus dilakukan agar kita bisa mengingat poin2 atau detail2 dalam buku untuk bisa diungkapkan nantinya dengan sebuah tulisan yang menghardik buku tersebut.

Leave a Reply