Author: hamlennon

StereoMan

Sunday, June 6th, 2010 @ 5:59 PM

h-bowen-normanMana yang lebih bagus menurut anda, sound yang mono (Monophonic) atau stereo (Stereophonic)? kalau saya tentu memilih yang stereo. Sebab suara yang keluar dari speaker terdengar lebih realistis dengan sistem dua arah output. Tak heran di masa kemunculannya di dekade 60-an, teknologi ini langsung digandrungi para pendengar musik di seluruh dunia. Tapi kali ini saya tidak menulis tentang teknologi instrument musik, tapi saya ingin membahas tentang Stereoman (istilah buatan saya sendiri).

Stereoman adalah tipikal manusia yang memiliki dua keahlian yang digeluti secara serius. Bisa dari dua fakultatif keilmuan yang berbeda maupun non fakultatif seperti skill. Siapa sajakah orang-orang yang termasuk dalam kategori seperti ini? Dan bagaimana “suara” mereka?

Bowen's-reaction-series1

Dalam ilmu kebumian kita mengenal Prof Norman L Bowen. Karyanya yang paling terkenal adalah Bowen’s Reaction series, sebuah bagan yang menggambarkan suatu proses bagaimana mineral terbentuk. Kristal bergabung menjadi mineral, mineral bergabung menjadi batuan dan gabungan batuan inilah yang kita sebut dengan kerak bumi, tempat umat manusia membangun peradaban. Beliau melakukan pendekatan secara kimia fisik terhadap proses pembentukan mineral yang berasal dari proses pembekuan magma. Tentu untuk melakukan riset semacam ini beliau harus menguasai dua ilmu sekaligus, yaitu ilmu kimia dan ilmu geologi. Teori ini menghancurkan kesadaran mistis masyarakat tentang kekayaan alam. Teori ini merasionalisasikan sekian pertanyaan kita tentang semua kemakmuran yang tersimpan dalam perut bumi. Teori ini juga menjadi dasar untuk pengembangan cabang-cabang ilmu kebumian yang lain terutama di bidang explorasi.

Steve_JobsLalu bagaimana dengan Steve Jobs? pendiri Apple Corporation. Tentu anda mengenal beliau. Karena bisa jadi komputer yang sedang anda gunakan ini juga menggunakan Sistem Operasi (SO) Macintosh.Pada awal masa kuliahnya Steve Jobs harus Drop Out dari Reed College di Portland, Oregon. Lalu akhirnya dia mengambil semacam kursus di bidang Caligraphy karena Steve juga sangat tertarik dengan bidang seni. Steve mengakui kalau saja dia tidak di DO dari Reed College bisa jadi Macintosh tak akan “secantik” ini. Ternyata dengan kemampuannya di bidang TI dan seni akhirnya dia dapat membuat SO komersil pertama di dunia yang dilengkapi dengan Graphical User Interface (GUI) sehingga memudahkan para pengguna komputer untuk mengakses data. Tidak lama, Bill Gates juga merilis Windows. Unsur artistik juga sangat dominan dalam setiap produk Apple Corp. Sebut saja IPod, IPhone, IMac dan Ipad. Tidak heran kalau Macintosh lebih digandrungi para Designer Graphic ketimbang Windows.

soekarnoNah bagaimana dengan indonesia? kita memiliki Ir. Soekarno, Sang Proklamator. Disiplin ilmu beliau adalah teknik tata kota. Tapi beliau juga menjadi tokoh pergerakan yang disegani di masanya. Beliau menguasai teori sosial politik dan teori ekonomi politik yang menjadi skill dasar seorang pemimpin gerakan. Beliau juga mengadopsi Marxisme dengan merilis paham baru yang disesuaikan dengan lokalitas masyarakat indonesia, Marhaenisme. Tentu bangsa ini bangga pernah memiliki tokoh secerdas beliau. Berhubung saya bukan Soekarnois, jadi ya biasa aja. Hehehehe…

Tapi apakah masyarakat kita sudah bisa mengapresiasi kehadiran stereomans dalam segala bidang kehidupan? Ternyata tidak semua. Sebenarnya tulisan ini didedikasikan untuk seorang kawan yang terdepak dari dunia broadcast.

Bunga (nama samaran) adalah seorang Mahasiswi Teknik, tapi Bunga sangat menggandrungi bidang broadcasting dan ingin menjadi seorang penyiar radio. Akhirnya dia memulai dari awal dengan mengikuti sekolah broadcast. Diluar perkiraannya dia diberi kesempatan untuk magang di sebuah station radio. Tidak lama kemudian, karena performanya yang semakin bagus dia diberi kesempatan untuk berkompetisi bersama yang lainnya untuk mengisi kekosongan kursi penyiar di Radio tersebut. Ternyata dia memenuhi syarat untuk bisa menjadi penyiar karena memiliki skill yang dibutuhkan oleh radio tersebut. Hanya saja pada saat akhir keputusan pihak manajemen meragukan kesanggupannya dalam mengatur jadwal onair berkaitan dengan kesibukan praktikumnya. Padahal dia mengatakan sudah sanggup dan melakukan sekian persiapan untuk hal-hal tersebut. Akhirnya diapun tetap tak diterima, dia sangat kecewa. Yang membuat saya kecewa adalah pihak menejemen menghiburnya dengan berkata “sudahlah ga usah terlalu dipikirkan, toh kamu kan anak teknik yang nanti ga akan kerja di bidang broadcast”. Sungguh menggecewakan. Bisa jadi itu niatan mereka sedari awal.

Sayang sekali padahal dia sangat berbakat. Tidak terbayangkan apabila hal tersebut menimpa saya, anda berbakat tetapi anda tidak difasilitasi. Pasti rasanya sangat menyakitkan. Tapi apakah stereomans bernasib sama? Ternyata ada yang bernasib lebih beruntung. Masih sama di bidang media tapi lebih tepatnya di bidang jurnalistik.

Seorang kawan yang bergelut di LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) mengatakan bahwa beruntunglah kalian yang memiliki skill jurnalis tetapi memiliki disiplin ilmu diluar ilmu komunikasi. Karena media dewasa ini lebih menyukai orang-orang dengan basic ilmu tertentu untuk menunjang kerja-kerja jurnalisnya, misalkan Sarjana ilmu kebumian yang nantinya ditugaskan khusus untuk meliput tentang topik-topik yang berhubungan dengan ilmu kebumian. Bagi saya, hal seperti ini ada benarnya. Saya pernah mendengar dari seorang alumni geologi yang merasa bahwa saat-saat wawancara dengan media adalah saat-saat yang melelahkan. Para wartawan sangat sulit mengerti istilah-istilah kebumian dan harus diterangkan berkali-kali. Lalu selang beberapa waktu mereka datang kembali dan masih menanyakan hal yang sama. Dia berkata “sepertinya mereka cepat lupa, padahal saya sudah memberi mereka semacam buku pengantar yang mudah dibaca, pasti mereka tidak membaca buku yang saya berikan”.

Tapi lucunya banyak sarjana sains yang Monoman. Mereka sudah merasa sangat yakin bahwa hanya dengan bidang ini saja mereka bisa sejahtera. Jadi sangat jarang dari mereka yang ingin menjadi jurnalis atau belok ke bidang lainnya. Ya, kebanyakan sarjana/mahasiswa sains adalah Monoman. Karena mereka adalah golongan yang paling positivistik dalam memandang dunia. Itu sebabnya kebanyakan dari mereka berakhir menjadi Buruh.

leonardo_davinciJadi begitulah jejak langkah para stereoman. Ada yang menjadi pahlawan, namanya terus dikenang dalam sejarah. Tentu atas kontribusinya bagi peradaban manusia. Lalu ada yang tersingkir karena orang lain memandang sebelah mata kemampuannya. Adabaiknya kita tidak menutup potensi seseorang dalam mengekspresikan bakatnya. Siapa sangka, dia akan menggemparkan dunia!

NB: Sebenarnya masih banyak lagi Stereoman, saya malah belum menyebutkan nama Leonardo Da Vinci. Bisa jadi dia bukan Stereoman. Lebih canggih dari itu, dia adalah Soroundman!(SoroundSound System)

I Me Mine, Sejarah


 


19 Responses to “StereoMan”

  1. Irwan Bajang Says:

    Seorang yang keren, tentu tidak mendramatisir masalah pribadinya dengan keluhan… hehehe. Maka orang yang hebat, selalu menjadikan sebuah pristiwa menarik dari sudut pandangnya. Kayaknya Dek Ilham sedang mencoba hal tersebut. Adek sedang tidak ingin berkubang dengan masalah pribadinya, tapi sedang mengajak banyak orang membaca sisi lain dari pikirannya.
    (Keren kan endorsment dariku?) hahahaha.

    Nah, kalau ada yang multi talent, misalnya, dia ganteng, jago dikajian sosial politik, jago di kesenian, dan ahli juga dalam memenangkan perjuadian dengan memanfaatkan kemampuan teknisnya, jago jurnalistik dan jago merayu cewek, apakah dia streoman? atau multistreo? atau, apa istilahnya?
    hehehehe… bagaimana dengan saya yang dahsyat ini? wakakakaka…
    bagaimana juga dengan lirik lagu Band Wa**, “matamu streo?”

    Btw, kelanjutan kisah dalam sinetron Bunga, gimana Pak?

  2. hamlennon Says:

    @Bajang: Sebenarnya saya juga bingung mau ngasih nama apa. Nama Bunga identik dengan korban perkosaan. Tapi ga papa lah, mirip2 kok. Cuma ini korban pelecehan potensial (maksudnya pelecehan terhadap potensi).

    Wah endorsmentnya keren tuh, kamu cocok merintis bidang baru bung. Pembuat endorsment indipendent, keren toh. Salah satu cabang freelance terbaru.

    Kamu tuh bukan StereoMan apalagi SoroundMan. Kamu adalah SuperMan, Manusia Super Lebay !!!

  3. Kandha Says:

    lebih mirip cerita tentang curahan hati siapa ya?hahahha..lumayan renyah…teman camilan saya begadang, ketika krupuk setoples, kacang satu plastik, serta keripik sebungkus telah tandas..

  4. hamlennon Says:

    @Kandaha: Go koe ganti blog neh po? Gonta-ganto blog ko isine podo wae? Pake ganti “kandha” lagi, kmu dah masuk HMI po? hahahaha

    Dibilang curhat, ga juga. Coz saya tidak bercerita tentang diri saya mas Renggo. Tapi saya salut dengan situ, isi blognya ngintrik diri sendiri, lebih dalam dari sekedar curhat. Wakakakak!

  5. Irwan Bajang Says:

    wooo…ganti blog maneh to…welah..welah..hahaha
    dipromosikan no!

  6. nh18 Says:

    Leonardo Da Vinci itu memang multy talented …
    udah bukan Stereo dia …
    mungkin jga 3 D … sorround pula …
    hehehe

    salam kenal saya

  7. dobleh yang malang Says:

    malam
    kunjungan perdana
    salam hangat dari blue

  8. boyin Says:

    kunjungan balik nih, wah baru di tolak sekali itu mah kecil..gak usah dipikirin..saya pingin kerja dengan bidang yang saya pingini aja kudu nunggu 11 tahun lamanya..hee..pake melewati 3 kali PHK pula…tapi kalo lagi kesel mah wajar aja..tapi abis seminggu kudu dilupain tuh…

  9. hamlennon Says:

    @nh18: Da Vinci dah di level SoroundMan mas. Sama2 mas, salam kenal
    @dobleh : Malam juga, makasih atas kunjungan
    @Boyin : Iya mas, hidup adalah perjuangan. Nanti saya sampaikan pada Bunga. Woh perjalanan karirnya mas Boyin ternyata terjal dan berbatu ya! salut…

  10. DV Says:

    Info yang sangat menarik..
    Jarang ada stereoman yang benar2 bisa maju di dua bidang..
    Saya pengen seperti itu…
    Kupikir Habibie hampir stereoman ya..

  11. dobleh yang malang Says:

    malam
    makasih infonya
    salam hangat dari blue

  12. hanifilham Says:

    wah2, berarti mereka multitalenta dums…

  13. hamlennon Says:

    @DV: Habibie seorang Stereoman? maksudnya pas dia jadi wapres ya? bisa jadi dia cuma jadi simbol semasa orde baru. Kita tau sendirikan, klo Soeharto memberi posisi Wapres hanya sebgai formalitas kekuasaan.

    @HanifIlham : Woh nama kita hampir sama nih. Dalam kamus mas Hanif mungkin bukan Stereoman tapi multitalent. Tapi sama aja kok mas. Postingan terakhir tentang Multitalent ya?

  14. cangkir Says:

    wah-wah panjenengan kleru tampa niku..amarginipun menawi sampun paham lak sampeyan ngertos bentenipun…mbok cobi dipirsani melih…

  15. Kika Says:

    Sarjana..

  16. komik upn Says:

    kimO, ne pindahin blognya ke RK.com dunk…biar bisa di utak-utik lagi…cz ne belon bisa interaktif je…:) thx alot

  17. yoga Says:

    selamat malam. salam kenal mas pandu.

    “Tapi lucunya banyak sarjana sains yang Monoman. Mereka sudah merasa sangat yakin bahwa hanya dengan bidang ini saja mereka bisa sejahtera. Jadi sangat jarang dari mereka yang ingin menjadi jurnalis atau belok ke bidang lainnya. Ya, kebanyakan sarjana/mahasiswa sains adalah Monoman. Karena mereka adalah golongan yang paling positivistik dalam memandang dunia. Itu sebabnya kebanyakan dari mereka berakhir menjadi Buruh”

    paragraf ini ngena banget. tapi aku masih belum terlalu paham mas kenapa kaum2 yang mempunyai semangat berlebih ini malah berakhir demikian? bukankah kita sudah tau rumusnya bahwa: (1bidang x semangat)+kerja keras= sukses

  18. hamlennon Says:

    @Yoga:
    Rumus tersebut mungkin saja bisa gunakan, tapi sayangnya untuk persoalan kita yang sekompleks ini? saya yakin interdispliner adalah jawabannya. Misalnya saja, pelajaran dalam ilmu sains tak pernah mengajarkan kita bagaimana perubahan sosial dapat dilaksanakan. Sedangkan situasi negri kita sekarang? Tentu kita butuh banyak perubahan. Begitu pula sebaliknya.

    Berhubung saya tau Bung Yoga adalah anak Tambang, ya… Viva Tambang!!!
    hahahahha….

  19. yoga Says:

    benar bung, saya rasa interdisipliner memang penting. Tapi sebelum kita bisa mengarah kesana, setidaknya kita bisa memberdayakan orang2 monoman ini untuk melakukan perubahan pada ladang mereka sendiri.
    saya percaya sekompleks apapun situasi negri ini jika setiap orang mengusahakan yang terbaik yang dapat mereka berikan, maka lambat laun pasti akan menunjukan hasil.

    yang salah bukan mereka yang hidup sebagai monoman, tetapi orang2 atas yang tidak dapat memberdayakan dan mengkoordinasikan para monoman untuk membuat perubahan.

    kok tau bung? makasih juga sudah di add. MANTAP SEKALI!! hahaha

Leave a Reply