Author: hamlennon

When Im Sixty Four

Monday, August 17th, 2009 @ 4:45 PM

PancasilaSaya yakin, pasti di tengah-tengah hiruk pikuk menyambut kemerdekaan, beberapa orang pasti menyempatkan dirinya untuk merenung dan merefleksikannya dalam tulisan. Tentunya para blogger mengambil bagian ini. Dan tentunya kebanyakan dari kita menulis tentang “sudah merdekakah kita?”. Maka dari itu saya lebih memilih untuk menulis yang lain.

Tapi saya cuma mengingatkan, bahwa sepertinya kita selalu terjebak dalam refleksi semu di tengah euforia yang reaksioner, selalu reaksioner. Kita selalu menuliskan suatu yang mengkritik yang mungkin terlewatkan oleh mereka yang lupa, lupa akan masa lalunya. Kita mengkritik PEMILU lalu, tapi keikutsertakan kita terhadap PEMILU seakan-akan hanya mencoba lepas dari tangung jawab politik kita kepada rakyat. Berharap bahwa orang yang kita pilih nantinya akan menyelesaikan segalanya. Padahal, sejarah sering berkata bahwa mereka terkadang tak bisa berbuat banyak.

Kita merasa tidak perlu ikut serta susah payah memikirkan nasib rakyat, toh kita sudah melimpahkan tanggung jawab kita kepada mereka yang terpilih. Beginikah kualitas PEMILU kita? Dan bagaimana kualitas KEMERDEKAAN kita?

Saya jadi teringat tulisan Pramoedya Ananta Toer:

Nah demikianlah Djakarta kita, sekian tahun setelah merdeka.

Barangkali engkau mengagumi kaum tjerdik-pandai jang sering diagungkan namanja disurat-suratkabar. Hanja sedikit di antara mereka itu jang benar-benar bekerdja produktif-kreatif. Jang lain-lain terpaksa mem­populerkan diri agar tak tumbang dimedan penghidup­an! Apakah jang telah ditemukan oleh universitas Indonesia selama ini jang punja prestasi interna­sional! Di lapangan kepolitikan, apakah pantjasila telah melahirkan suatu kenjataan di mana engkau sadar di hatiketjilmu bahwa kau sudah harus merasa berterimakasih. Aku pernah menghitung, dan dalam sehari pada suatu hari jang tak terpilih, diutjapkan limabelas kali kata pantjasila itu baik melalui pers, radio, atau mulut orang. Sedjalan dengan tradisi pendjadjahan jang selalu dideritakan oleh rakjat kita, maka nampak pula garis-garis jang tegas dalam masa pendjadjahan priaji­-pedagang ini: orang membangun dari atas. Tanpa pondamen. Ah, kawan, kita mengulangi sedjarah ke­gagalan revolusi Perantjis.

————————-

Kawan, sebenarnja revolusi kita harus melahirkan satu bangsa baru, bangsa jang nomogeen, bangsa jang bisa menjalurkan kekuasaan itu sehingga mendjadi tenaga pentjipta raksasa, dan bukan menjerbit-njerbit­nja dan melahapnja sehingga habis sampai pada kita, pada rakjat jang ketjil ini. Dari dulu aku telah bilang kekuasaan dan kewibawaan kandas di tangan para petugas. Petugas jang benar-benar pada tempatnja hanja sedikit, dan suaranja biasa habis punah ditelan agitasi politik — sekalipun tiap orang tahu ini bukan masa agitasi lagi, kalau menjadari gentingnja situasi tanah­airnja dalam lalulintas sedjarah dunia !

Kita mesti kerdja.

Tetapi apa jang mesti kita kerdjakan, bila mereka jang kerdja tak mendapat penghargaan dan hasil seba­gaimana mesti ia terima ?

Aku kira takkan habis-habisnja ngomong tentang Djakarta kita, pusat pemerintahan nasional kita ini. Setidak-tidaknja aku amat berharap pada kau, orang daerah, orang pedalaman, bakar habis keinginan ke Djakarta untuk menambah djumlah tugu kegagalan revolusi kita. Bangunkan daerahmu sendiri. Apakah karena itu engkau djadi federalis, aku tak hiraukan lagi. Dulu sungguh mengagetkan hatiku mendengar bisikan orang pada telingaku: mana jang lebih penting, kemer­dekaan ataukah persatuan? Dan kuanggap bisikan ini sebagai benih-benih federalisme. Aku tak hiraukan lagi apakah federalisme setjara sadar dianggap djuga se­bagai kedjahatan atau tidak! Setidak-tidaknja aku tetap berharap kepadamu, bangunkan daerahmu sendiri. Tak ada gunanja kau melantjong ke ibukota untuk men­tjontoh kefatalan di sini.

Kawan, sekianlah.

Tulisan tersebut diatas hanyalah penggalan dari sebuah artikel lengkap berjudul “Djakarta” yang ditulis tahun 1955.

Paul McCartney, umurnya sekarang lebih dari 64 tahun.Paul McCartney (The Beatles) pernah menuliskan sebuah lagu tentang apa sekiranya yang terjadi saat kita berumur 64. Masihkah ada yang memperhatikan kita? Menjadi tua, saya cukup sentimen dengan kata ini. Bisa jadi kita menjadi kesepian dan sendiri. Sangat meresahkan, apalagi setelah saya menonton sebuah film animasi berjudul “Up” yang menceritakan seorang kakek yang di tinggal mati pasangan hidupnya. Sekiranya inilah yang membuat seorang Soe Hok Gie mendambakan mati muda.

When I’m Sixty Four by The Beatles :

Tapi dalam konteks kemerdekaan ini, siapakah kiranya yang mulai ditinggalkan. Pancasila yang semakin renta sepertinya mulai ditinggalkan para pengikutnya.Sudah mulai tidak dihiraukan bahkan beberapa kelompok berniat menggantikannya dengan ideologi lain.

Masihkah kita sudi untuk menemaninya kawan? Bukankah hanya tinggal kamu keluarganya….

Beatles, Politik, Reaksioner


 


12 Responses to “When Im Sixty Four”

  1. agn Says:

    Semuanya itu ada prosesnya kalau menurut saya. Dan kalau kita selalu protes & ribut mulu maka gak akan maju-maju ini negara (contoh : saya T_T). Toh negara maju aja butuh waktu ratusan tahun untuk stabil dan maju. Kita ini sebuah negeri yang kompleks dalam berbagai hal, untuk menyamakan visi dari keberagaman itu bukan sesuatu yang mudah.

    *Dirgahayu Indonesia ke-64*

    Jadi ingin dengar lagu Rayuan Pulau Kelapa

  2. domba garut! Says:

    Terlepas dari berbagai kontemplasi tulisan yang ramai mengisi halaman dan ruang tajuk di surat-surat khabar itu, kadang kita mesti mengembalikan kembali sebuah pernyataan kepada diri sendiri, sesuai perkataan Mantan Pres. AS JFK:

    “Ask NOT what your country can do for you, but ask what YOU can do to your country..”

    Argumen diatas serta-merta akan mengurangi tingkat gontok-gontokan dan perang urat-syaraf diantara golongan dan partai, menjadikan smeua anak bangsa wajib bersama-sama membangun bangsa, jika tidak tetangga diluar akan ramai bertepuk tangan menyuraki drama tak berujung, sambil sibuk mencuri banyak asset bumi nusantara.. (yangs elama ini sudah ramai berjalan didepan hidung kita sendiri).

    When I am 64? – I am looking forward a better Indonesia, how to do it? starting from now.. making a difference one step at a time, empowering one head at a time.

    Salam hangat dari afrika barat!

  3. arham blogpreneur Says:

    smoga lebih bae… di tahun yang semakin tua… tampak masih muda

  4. Irwan Bajang Says:

    dalem sekali kecintaanmu terhadap indonesia bung..kamu memang layak tinggal di negara ini :D

  5. yusdi Says:

    MERDEKA!!!!!!!!!!!!!!!!

  6. DV Says:

    Wuih, suka Pram juga ya?
    Sama, saya juga suka!

    Selamat berpuasa dan salam kenal!

  7. andrew Says:

    saya kira tak ada negara yang “makmur dan stabil”
    atau adakah…?
    hehe..:D

  8. Adam Says:

    bagus juga tulisannya Pak
    ^^
    eh susah bgt hub bapak soal urusan yang dulu
    apa trima sms aja soalnya kalo lewat YM keliatannya bapak jarang OL ya
    bulan2 sibuk nie?

  9. ChrieztYoung.. Says:

    Selama masih memikirkan kantong masing2.. Ya inilah indonesia..

  10. uae escort Says:

    itu akan menjadi halaman blog yang sempurna bagi siapa saja yang ingin tahu tentang subjek ini. Anda tahu banyak yang praktis sulit untuk berdebat dengan Anda (tidak bahwa saya benar-benar ingin … HaHa). Anda benar-benar menetapkan putaran baru pada topik thats telah ditulis selama bertahun-tahun. Fantastic hal, hanya yang sangat baik!

  11. indian call girls in dubai Says:

    Its seperti Anda membaca pikiran saya ! Anda tampaknya tahu banyak tentang hal ini , seperti Anda menulis buku di dalamnya atau sesuatu . Saya berpikir bahwa Anda bisa lakukan dengan beberapa pics untuk mendorong rumah pesan sedikit , tapi bukan itu , ini adalah blog yang fantastis . Sebuah membaca besar . Saya pasti akan kembali . semoga sukses

  12. Methandienone 5 mg Says:

    Aku melihat sesuatu yang benar-benar khusus di situs web ini . ;) ;)

Leave a Reply